Ujarku.co – Perjalanan hidup Firdaus, atlet disabilitas pararenang asal Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan kisah inspiratif tentang semangat juang dan keberanian melawan keterbatasan. Di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (PEPARNAS) Solo 2024, Firdaus mengukir prestasi gemilang dengan meraih medali emas di nomor 200 meter gaya bebas dan medali perunggu di nomor 400 meter gaya bebas.
“Alhamdulillah, saya mendapatkan satu medali emas dan satu medali perunggu di Peparnas Solo 2024,” ujar Firdaus dengan rasa syukur saat ditemui usai jumpa pers di kantor Diskominfo Kaltim, Jumat (25/10/2024).
Namun, di balik senyum kebanggaannya, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh liku. Pada tahun 2009, ketika kecelakaan tunggal yang dialaminya saat masih duduk di bangku kelas 3 SMA merenggut sebagian kemampuan kakinya, menyebabkannya dinyatakan cacat permanen.
Masa-masa setelah kecelakaan menjadi titik terendah dalam hidupnya. Firdaus terpuruk dalam keputusasaan, mengurung diri, dan menjauh dari dunia luar.
Namun, secercah harapan muncul ketika seorang teman mendatanginya dan menyemangati Firdaus untuk bangkit. Teman tersebut mengajaknya bergabung dengan komunitas atlet penyandang disabilitas, sebuah ajakan yang menjadi titik balik dalam hidup Firdaus.
“Saat itu, saya lama mengurung diri di rumah setelah kecelakaan. Tapi teman saya datang dan bilang, ‘Sampai kapan mau begini terus? Ayo bangkit, kamu masih muda, nggak mungkin hidup begini selamanya,’” kenangnya.
Dengan dorongan dari temannya, Firdaus mulai menyadari keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Ia memutuskan untuk mencoba kembali menghidupkan semangat yang sempat padam, dan olahraga renang yang menjadi hobinya sejak kecil menjadi jalan yang ia pilih.
“Hobi saya memang berenang, apalagi rumah saya dekat sungai. Jadi, ada dasar kemampuan renang sejak kecil,” ujarnya.
Namun, perjalanan Firdaus sebagai atlet pararenang tidaklah mudah. Pada awalnya, kendala terbesar yang ia hadapi adalah masalah biaya latihan. Tapi, berkat dukungan penuh dari pemerintah, Firdaus akhirnya dapat terus berlatih dan mengembangkan kemampuannya.
Pemerintah Balikpapan secara konsisten memberikan bantuan untuk memastikan Firdaus dapat fokus pada latihan tanpa harus khawatir soal biaya.
“Kendala waktu di awal-awal itu masalah biaya, tapi alhamdulillah, seiring waktu, saya dan teman-teman dapat dukungan dari pemerintah,” jelasnya.
Setelah berlatih keras selama kurang lebih lima bulan, usaha Firdaus membuahkan hasil di Peparnas Solo 2024. Medali emas di nomor 200 meter gaya bebas dan medali perunggu di nomor 400 meter gaya bebas menjadi bukti atas dedikasi dan kerja kerasnya tidak sia-sia.
Namun, prestasi Firdaus tidak hanya terbatas pada Peparnas Solo. Di ajang Peparnas XVI Papua 2021, ia juga berhasil meraih medali perak di nomor 200 meter gaya bebas dan medali perunggu di nomor 200 meter gaya ganti. Prestasi tersebut semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu atlet pararenang terbaik di Kaltim.
Melalui perjalanan hidupnya, Firdaus tidak hanya menginspirasi banyak orang, tetapi juga membuktikan keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk meraih mimpi. Ia menunjukkan dengan tekad, semangat, dan dukungan yang tepat, seseorang dapat mencapai prestasi besar, meski harus melewati berbagai rintangan.
Kepada para penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, Firdaus memberikan pesan yang sarat makna.
“Tetap semangat latihan. Tanpa latihan, kita tidak akan juara,” pesannya.
Di balik segala perjuangannya, Firdaus menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan mimpi besar dapat terwujud dengan kerja keras dan semangat juang yang tak pernah padam.(*)
Penulis: Devi Mogot





