Ujarku.co
Ceita epik Mahabharata itu seru dan melagenda, bukan karena banyaknya tokoh hebat titisan dewa. Bukan kerana jadi panutan hidup 1,2 miliar orang di dunia. Kisah Mahabharata karya Vyasa Krisna Dwipayana ini bukan main serunya karena perang saudara adu kepentingan keluarga Kurawa dan keluarga Pandawa.
Diprediksi total ada empat juta kesatria hadir adu pamungkas di perang ini.
Harus digaris bawahi kalau perang Kurawa dan Pandawa bukan perang antara kebaikan melawan keburukan, bukan jahat melawan baik, bukan soal amal dan dosa. Tapi lebih kepada urusan kepentingan politik. Berebut kursi pimpinan Astinapura.
Dalang baru saja hendak masuk ke ark saga pamungkas, babak Bharatayuddha. Masuk bagian 1; Jabelan (Kresna Duta). Babak pertama ark Baharatayuddha ini amat penting bagi dalang pewayangan.
Di babak ini lah, baik Kurawa ataupun Pandawa, menghimpun kekuatan, menyiapkan bidak catur, dan membangun koalisi guna memenangkan perang di lapangan Kurusetra.
Werkudara pimpinan perang Pandawa. Ujung tombak perjuangan begitu sumringah kala mendapat kabar Arjuna sukses memboyong Kresna dan seluruh kekuatan tempur Kerajaan Surasena.
Saudara-saudaranya yang lain turut membawa kabar baik. Kerajaan kuat lainnya seperti Panchala, Matsya, Magadha, dan Chedi ikut bergabung ke koalisi gemuk Werkudara.
Bahkan kerajaan yang awalnya sekutu setia Kurawa seperti Angga, Gandhara, Sindhu, Bahlika, dan Trigarta berbalik arus mendukung Pandawa.
Ini tentu jadi mimpi buruk bagi Kurawa. Kehilangan sekutu terkuat. Kurawa hilang arah.
Kondisi ini tentu membuat Werkudara tersenyum. Sosok Werkudara ini perawakannya kokoh, badan tegap tinggi besar. Kalau dalam perang, Werkudara itu sat set tanpa basi-basi. Musuh bisa langsung dibanting sampai lumat layaknya membuat adonan Wadai Cincin.
Werkudara itu punya kesan seram dan angker. Walau juga ganteng punya senyum manis layaknya bunga seruni. Sebenarnya hati Werkudara itu lembut kok. Hatinya halus seperti pualam. Bisa juga mirip-mirip buah durian. Berduri di luar dan lembut dan manis di dalam.
Apalagi urusan cinta. Werkudara itu sensitif. Pernah Werkudara menulis puisi cinta untuk kekasihnya Arimbi. Bukannya bernada kaku, puisi cinta Werkudara justru jadi kitab penakluk Wanita legendaris bernama Tembang Asmarandana.
Dalam pewayangan, pastilah sosok Werkudara ini manusia paripurna. Kisah Werkudara juga abadi di Lakon Dewa Ruci. Ketika Werkudara dapat melihat ke dalam diri sendiri. Menemukan hakikat hidup, hakikat manusia, hakikat penciptaan, dan hakikat kematian.
Cukup sudah membahas tokoh utama, kita kembali ke Kurusetra.
Bagi Werkudara menjadikan seluruh kerajaan di dwipantara sebagai sekutu menjadi modal utama memenangkan Bharatayuddha. Pasukan sebanyak empat juta orang siap melumat Kurawa. Pandawa bakal menang mudah.
Tapi keseruaan itu tidak bisa dirasakan oleh kita, si penonton pewayangan. Berharap dapat tontonan serup babak akhir. Eh, Kurawa mundur sebelum bertempur. Gegara tak dapat koalisi, Kurawa absen di perang kurusetra.
Alhasil, Pandawa melawan Kurusetra Kosong.
Memang tidak seru rasanya melihat Werkudara yang gagah perkasa, tapi enggan menggeluarkan justsu andalan. Apa yang mau dirapal kalau musuh aja gak ada batang hidungnya. Penonton kecewa.
Sebagai penonton wayang, kita bosan, kita kesepian. Kita butuh tragedi, kita butuh cerita kolosal.
Bagaimana Adipati Karna, kesatria tulus harus mati karena dicurangi Kresna. Atau Bhisma yang angkuh mengibuli kematian. Air mata kita menitik kala kesatria muda Abimayu yang bertalenta harus mati dikeroyok ribuan tentara.
Semua kisah berpadu menjadi kisah megah. Dengan itu semua, Mahabharata menjelma sebagai epos paling inspiratif untuk manusia. Bagi manusia Mahabharata mestinya bisa menjadi pencerahan.
Pun kalau Kurawa mau mencoba melawan, siapa yang jadi sekutunya. Yang tersisa hanya tujuh kerajaan kecil. Tentu kondisi ini tidak cukup mengalahkan Pandawa yang berkoalisi dengan 15 kerajaan kuat.
Mungkin bagi Kurawa menyerah jadi jalan perdamaian. Orang bijak pernah berkata; “Jangan sok berjuang pada perang yang tak mungkin dimenangkan,”
Petuah inilah yang mungkin saja dipegang teguh oleh Duryodana, pimpinan Kurawa. Dan pada akhirnya, Duryodana memilih jadi penonton yang baik, dan membiarkan Werkudara berpotensi menang mudah gegara melawan Kurusetra Kosong.
Tapi apa benar Pandawa akan menang mudah meski melawan lapangan kosong. Tentu itu terserah Dalang. Dia punya kuasa.Mungkinkah ada kejuatan yang diulah Dalang.
Lucu juga jika nantinya melihat Pandawa gagal menang meski hanya melawan Lapangan Kosong. Tapi ya susah, nyaris mustahil terjadi. (*)
Penulis:
Er Riyadi, Pemimpin Redaksi Ujarku.co





