Ujarku.co – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kalimantan Timur (Kaltim) menjelaskan komitmennya dalam menyediakan layanan inklusif yang ramah bagi penyandang disabilitas. Upaya ini dilakukan dengan menyiapkan akses fisik hingga koleksi khusus, sehingga seluruh masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas literasi tanpa hambatan.
Anita Natalia Krisnawati, Plt Kepala DPK Kaltim, menyampaikan pihaknya telah melengkapi sarana dan prasarana di Gedung DPK Kaltim, Jalan Ir. Juanda, Samarinda.
“Kami sudah berupaya menyediakan sarpras untuk penyandang disabilitas, mulai dari akses masuk ke gedung, lahan parkir, hingga ruangan khusus untuk disabilitas,” ujarnya, Selasa (16/9/2025).
Tak hanya infrastruktur, DPK Kaltim juga menghadirkan koleksi buku dengan huruf Braille agar pengunjung tunanetra tetap bisa mengakses pengetahuan. Anita mengakui jumlahnya masih terbatas, namun langkah penambahan terus diupayakan.
“Kami memang masih terbatas dalam koleksi buku-buku Braille, tetapi saat ini kami mengupayakan dukungan dari berbagai unsur, baik Perpustakaan Nasional maupun dinas terkait,” katanya.
Menurut Anita, fasilitas ramah disabilitas merupakan bagian penting dari konsep perpustakaan inklusif. Ia menekankan pentingnya kesempatan setara bagi semua lapisan masyarakat untuk memperoleh informasi.
“Intinya, kami ingin perpustakaan bisa welcome dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” ucapnya.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat dalam memperluas akses literasi bagi kelompok rentan. DPK Kaltim juga menargetkan penguatan layanan inklusif melalui kerja sama dengan organisasi penyandang disabilitas, komunitas literasi, dan lembaga pendidikan.
Selain koleksi Braille, pengembangan selanjutnya mencakup penyediaan perangkat teknologi bantu seperti komputer dengan screen reader dan audio book. Fasilitas ini diharapkan dapat memberikan kemudahan lebih bagi pengunjung tunanetra maupun mereka yang memiliki hambatan penglihatan.
DPK Kaltim turut mendorong partisipasi masyarakat dan sektor swasta dalam mendukung layanan ramah disabilitas. Program donasi buku Braille, pelatihan khusus bagi pustakawan, serta keterlibatan relawan pendamping menjadi bagian dari agenda yang sedang dikembangkan.
“Kami percaya literasi adalah hak semua orang. Dengan dukungan banyak pihak, akses yang setara dapat terwujud,” kata Anita.
Melalui kebijakan inklusif ini, DPK Kaltim optimistis dapat menjadikan perpustakaan daerah sebagai pusat literasi yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.(*)
Penulis: Devi Mogot





