BI Dorong Keseimbangan Pembayaran Tunai dan Non-Tunai, QRIS Makin Diminati UMKM

Bayuadi, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur.

Ujarku.co – Bank Indonesia (BI) terus mendorong keseimbangan antara penggunaan uang tunai dan non-tunai di masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pembayaran nasional yang inklusif dan efisien.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur, Bayuadi, mengatakan bahwa transaksi non-tunai, terutama lewat QRIS, kini menunjukkan tren pertumbuhan yang semakin positif.

“Kalau kami lihat sekarang pertumbuhannya semakin bagus, meningkat tajam. Pembayaran non-tunai jadi alternatif yang mempermudah transaksi, terutama bagi pelaku UMKM,” ujar Bayuadi di sela acara Kaltim Paradise of The East x Summer Fest 2025 di Convention Hall Samarinda, Jumat (7/11/2025).

Menurutnya, sistem pembayaran digital seperti QRIS sangat membantu pelaku usaha kecil yang sering kesulitan menyiapkan uang kembalian.

“Dengan QRIS, pembeli cukup melakukan pemindaian kode dan pembayaran langsung masuk ke rekening pedagang. Selain lebih cepat, dari sisi kebersihan juga lebih aman karena uang tunai berpindah tangan dan bisa membawa bakteri,” jelasnya.

Bayuadi juga menambahkan, transaksi lintas negara kini sudah bisa dilakukan dengan QRIS. Beberapa negara seperti Singapura, Jepang, dan Thailand sudah terhubung dengan sistem ini.

“Harapannya, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia tidak perlu membawa uang tunai lagi, cukup dengan QRIS saja,” tambahnya.

Meski begitu, BI tetap menegaskan bahwa pembayaran tunai masih perlu dijaga agar seluruh lapisan masyarakat dapat bertransaksi dengan mudah.

“Harapannya ke depan, pembayaran tunai juga tetap tinggi, terutama di kalangan UMKM yang belum sepenuhnya beralih ke digital,” ujarnya.

Menanggapi maraknya pedagang yang membebankan biaya transaksi QRIS kepada pembeli, Bayuadi menegaskan bahwa hal tersebut tidak sesuai ketentuan.

“Beban Merchant Discount Rate (MDR) itu ada di pihak pedagang, bukan konsumen. Kalau ada yang membebankan ke pembeli, bisa dilaporkan untuk ditindaklanjuti,” tegasnya.

Selain memperluas penggunaan QRIS, BI juga terus mengedukasi masyarakat agar memahami cara bertransaksi digital dengan aman.

“Kita tidak hanya meningkatkan inklusi, tetapi juga literasi. Pengguna perlu memahami cara menggunakan QRIS dengan benar, mengenali risiko, dan tahu langkah mitigasinya kalau terjadi penipuan,” kata Bayuadi.

Ia mengingatkan agar pengguna selalu mengecek nama pedagang yang muncul di aplikasi sebelum melakukan pembayaran.

“Jangan langsung scan dan bayar tanpa dicek dulu, pastikan nama toko yang tampil sesuai dengan lokasi,” imbaunya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Bank Indonesia berharap sistem pembayaran di Indonesia semakin efisien, aman, inklusif, dan mampu mendukung stabilitas ekonomi nasional. (*)

Tag Berita

Bagikan

Komentar