Ujarku.co – Jalan Soekarno Hatta, akses penghubung Balikpapan menuju Samarinda, punya sejarah panjang, punya kisah belapis-lapis.
Bermula dari peran Uni Soviet, kandas imbas G30S-PKI, diambil alih Jepang. Rampung tahun 1971.
Belum lagi, jalan sepanjang 115 kilometer ini juga mengambil peran penting saat Perang Dunia II pecah di Kota Minyak dan Kota Tepian.
Bagaimana kisahnya?
Dalam bukunya berjudul Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2009), Hario Kecik menulis akses jalan Balikpapan-Samarinda, mulai dibuka oleh Tentara Jepang pada era Perang Dunia II.
Tujuannya untuk keperluan militer, terlebih saat itu pecah pertemburan melawan Belanda di Balikpapan dan Samarinda.
“Sebagian besar jalan lama itu yang mengikuti ketinggian bukit-bukit, sudah ditumbuhi rumput ilalang. Terdapat bagian yang gundul kerena tanahnya terdiri atas pasir kwarts putih yang tidak mengizinkan tanaman tumbuh di atasnya. Ada bagian-bagian yang melewati tepi-tepi jurang. Hutan lebat menutupi kiri kanan jalan pada banyak tempat,” tulis Hario Kecik (2009).
Setelah menguasai Balikpapan pada 24 Januari 1942. Serdadu Nippon lalu bergerak ke Samarinda.

Dukungan akses jalan itu punya dampak besar bagi Jepang. Sekira bulan Februari 1942, Jepang sukses menduduki Samarinda.
Baru pada tahun 1945, pasukan sekutu (Australia, Amerika Serikat, dan Belanda) melakukan serangan balasan ke Balikpapan.
Pada 15 Juli 1945, pasukan sekutu berhasil menguasai wilayah Balikpapan, lewat Oprasi Oboe.
Pasukan Jepang mundur ke Samarinda. Jalurnya sama, lewat akses hutan yang sekarang bernama Bukit Soeharto.

“Tentara Jepang memakai jalan itu untuk mengamankan harta karun. Saya memikirkan jiwa para romusha atau pekerja paksa, yang dikorbankan oleh Jepang untuk melaksanakan proyek militer itu,” Hario Kecik (2009).
Kehilangan Balikpapan, pasukan Jepang turut terdesak kekuatan Sekutu di Samarinda.
Pendudukan Jepang di Balikpapan dan Samarinda, resmi berakhir pada kisaran September 1945, setelah Samarinda dibebaskan oleh Batalyon ke-2 Divisi ke-7 Angkatan Darat Australia.
Akses Jalan Soekarno Hatta jadi saksi mata bagaimana dasyatnya pertempuran Perang Dunia II.

Untuk mengenang sejumlah pertempuran Balikpapan dan Samarinda, dibangun Tugu Perdamaian Jepang, Australia, dan Indonesia pada tahun 1990.
Selain tugu, turut dibangun makam simbolis Jepang untuk menghormati para tentara Jepang, Australia dan Indonesia yang gugur selama Perang Dunia II. (*)
Bersambung…


