Gastronomi Jadi Kunci Baru Dispar Kaltim Dongkrak Daya Tarik Desa Wisata

Gami Bawis Bontang (Gambar: @GamiBontang135)

Ujarku.co – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) menilai pentingnya pengembangan gastronomi sebagai elemen strategis untuk memperkuat daya tarik desa wisata. Pendekatan mampu memberikan nilai tambah pada destinasi, tidak hanya dari sisi visual, tetapi juga pengalaman kuliner yang memiliki cerita dan identitas daerah.

Ririn Sari Dewi, Kepala Dispar Kaltim, menyebut tantangan utama yang dihadapi pelaku wisata saat ini adalah pengemasan produk kuliner. Menurutnya, wisata tidak lagi cukup hanya menyajikan spot yang Instagramable, tetapi perlu menawarkan pengalaman gastronomi yang membuat wisatawan memahami sejarah dan kekhasan makanan lokal.

“Trend ke depan itu gastronominya. Orang pengen tahu apa sih sejarahnya makanan di sini,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).

Ririn mencontohkan kuliner Gami Bawis dari Bontang sebagai salah satu kekuatan yang tidak dimiliki daerah lain. Spesies ikan bawis hanya ditemukan di perairan Bontang, sehingga menjadi modal unik yang bisa diolah sebagai ciri khas kuliner kota tersebut. Ia menilai kekayaan lokal seperti ini perlu dikembangkan menjadi magnet wisata yang berbeda dari daerah lain.

Ririn Sari Dewi, Kepala Dispar Kaltim

Contoh lainnya terlihat di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara. Desa ini memiliki potensi pertanian yang besar, namun selama ini hanya memasarkan produk segar seperti kangkung dan selada. Dispar Kaltim mendorong agar hasil pertanian tersebut diolah menjadi produk kuliner bernilai tambah, seperti keripik sayur dengan kemasan dan kandungan gizi yang terstandar.

“Kita kerja sama dengan teman-teman pengolahan pertanian Unmul (Universitas Mulawarman) untuk membantu atau memberikan soal packagingnya dan nilai gizinya,” terang Ririn.

Ia menekankan inovasi kuliner menjadi kunci. Banyak pelaku hanya menjual menu yang umum ditemukan di pasar, padahal peluang pengembangan masih luas. Ririn mencontohkan olahan ikan patin yang biasanya dibakar atau dipindang, namun sesungguhnya dapat dikreasikan menjadi hidangan berbeda seperti Rabuk Patin yang juga memiliki cita rasa kuat.

“Jadi Gastronomi ini bukan sekadar urusan rasa, tetapi bagaimana kuliner lokal bisa membangun pengalaman yang utuh bagi wisatawan,” pungkas Ririn.

Ia menegaskan, jika desa wisata mampu mengolah kekayaan pangan mereka dengan inovatif dan terstandar, maka kuliner akan menjadi pintu masuk yang kuat untuk mengenalkan karakter daerah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar