Wisatawan Muda Dominan, Pengamat Peringatkan Risiko Desa Wisata Kaltim Tanpa Identitas

Desa Wisata Malahing, Bontang

Ujarku.co – Dengan millennial dan Gen Z menjadi populasi wisatawan terbesar, masa depan pariwisata Kalimantan Timur (Kaltim) bergantung pada kemampuan desa wisata menghadirkan autentisitas dan pengalaman yang tidak dibuat-buat.

Hal tersebut dinilai oleh I Wayan Lanang Nala, Pengamat Pariwisata Politeknik Negeri Samarinda. Ia mengatakan perubahan demografi wisatawan harus menjadi acuan utama dalam perencanaan dan pengembangan destinasi di Kaltim.

“Ke depan, wisatawan terbesar adalah millennials dan Gen Z. Mereka sangat teredukasi, akrab dengan platform digital, dan punya pola berwisata yang berbeda,” ujarnya.

Menurutnya, generasi ini sangat menekankan keaslian dalam berwisata. Mereka mencari pengalaman langsung, bukan atraksi yang dipoles berlebihan.

“Generasi ini mencari authenticity. Mereka tidak tertarik pada atraksi yang dimodifikasi terlalu jauh. Mereka ingin melihat realitas. Bahkan tempat kumuh pun bisa jadi daya tarik jika ditata dengan konsep yang benar,” jelasnya.

Ia menjelaskan motivasi utama generasi ini adalah independensi. Mereka memilih wisata berdasarkan minat pribadi karena literasi informasi mereka luas dan tidak bergantung pada rekomendasi orang. Selain itu, mereka memiliki kesadaran lingkungan yang kuat dan cenderung menyukai kegiatan yang memungkinkan interaksi langsung dengan alam dan budaya lokal.

I Wayan Lanang Nala, Pengamat Pariwisata Politeknik Negeri Samarinda

I Wayan Lanang Nala menyoroti persoalan mendasar dalam pengembangan desa wisata di Kaltim. Banyak desa menurutnya berlomba-lomba meraih label “desa wisata” tanpa memiliki daya tarik yang benar-benar otentik. Padahal, Kaltim memiliki dua modal besar, yakni wisata bahari di wilayah utara (Derawan – Maratua) serta wisata pedalaman.

Tantangan utama adalah menemukan karakter khas tiap desa.

“Jangan sampai desa wisata hanya jadi permukaan. Misalnya Pringgondani, tapi dia tidak menggambarkan Kaltim,” tegasnya.

Contoh lain berasal dari Kampung Malahing di Bontang yang memiliki visual menarik namun belum menunjukkan kekuatan spesifik yang membedakannya dari kampung atas laut lainnya. Sebaliknya, Desa Pela, Kutai Kartanegara dinilai memiliki “roh” yang kuat. Keberadaan Pesut Mahakam dianggap menjadi identitas yang langsung melekat dalam benak wisatawan.

“Kata ‘Pesut’ saja sudah memancing rasa ingin tahu. Tapi kemunculannya tak bisa diprediksi. Itu justru jadi daya tarik,” ucapnya.

Meski demikian, I Wayan Lanang Lana mengingatkan daya tarik tersebut harus diiringi tanggung jawab konservasi. Pesut Mahakam merupakan satwa langka sehingga pengembangan wisata tidak boleh mengancam habitatnya.

“Pada akhirnya, yang dicari generasi muda bukan sekadar destinasi, tetapi kejujuran sebuah tempat,” tegas Wayan.

Ia menilai masa depan pariwisata Kaltim hanya bisa bertahan jika tiap desa mampu menampilkan jati diri yang benar-benar asli, karena bagi millennial dan Gen Z, autentisitas adalah alasan utama untuk datang dan kembali.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar