Ujarku.co – Kadang, untuk merasakan Bali, kita tidak perlu memesan tiket pesawat atau menunggu cuti panjang. Cukup berjalan menyusuri Samarinda, tepatnya di Jalan Gelatik, ada satu warung kecil bernama Warung Telaga Rasa yang diam-diam menyimpan rasa, kenangan, dan kehangatan Pulau Dewata di dalam sepiring makanan.
Pertama kali aku makan di sini, ingatanku kembali ke tahun 2020. Masa ketika dunia terasa sempit, pandemi membuat banyak hal berhenti, dan kita semua belajar mencari bahagia dari hal-hal kecil. Warung ini baru buka waktu itu. Iseng mampir, tanpa ekspektasi apa pun dan justru dari keisengan itu, aku jatuh cinta.
Sejak hari itu, aku hampir tidak pernah absen. Berkali-kali kembali, berkali-kali pula perutku dimanjakan. Bahkan aku sendiri heran, sebagai orang yang terkenal pilih-pilih soal makanan, kenapa justru kombinasi Nasi Bejeg dan Sate Lilit di tempat ini selalu berhasil membuatku ingin kembali.
Saking seringnya aku kesini, si Ibu sampai tahu namaku. “Mba Devi, nasi bejeg kah?” Bagiku, ketika ibu memanggil namaku itu adalah sebuah privilese luar biasa. Bukan soal dikenal, tapi soal diterima. Tentang ruang makan sederhana yang perlahan terasa seperti pulang, tentang sepiring makanan yang disajikan bukan sekadar untuk pelanggan, tapi untuk seseorang yang sudah akrab
Yang memasak adalah orang Bali asli. Mereka tinggal di Samarinda, tapi hatinya jelas masih tertambat di tanah kelahiran. Aku tahu itu karena sering mengobrol dengan ibunya. Tentang upacara adat, tentang bolak-balik Samarinda – Bali, tentang rindu yang disiasati lewat masakan. Dan mungkin, rasa rindu itulah yang tanpa sadar ikut masuk ke piringku.

Nasi bejegnya pulen. Bukan pulen yang biasa, tapi pulen yang hangat dan ramah. Nasi itu diaduk dengan sambal embe khas Bali, ditambah irisan daun jeruk purut yang aromanya langsung naik ke hidung. Jujur saja, bahkan tanpa lauk pun nasi bejek ini sudah terasa lengkap.
Di piring yang sama, ada orek tempe yang teksturnya lembut, manis, asin, dan gurihnya seimbang. Ada kacang goreng yang menambah renyah, lalu urap sederhana, hanya kacang panjang dan daun pakis tapi jangan remehkan. Urap ini diberi biji kacang lentil dan parutan kelapa yang ukurannya cukup besar, membuat tekstur kelapanya masih terasa jelas saat dikunyah. Semua itu dibalut base genep, bumbu khas Bali yang kaya rempah. Rasanya dalam, hangat, dan entah kenapa terasa menenangkan. Ini makanan sehat, tapi juga memanjakan.
Di atas nasi bejek, ada ikan asin. Bagi lidahku, ini seperti jembatan kecil antara Bali dan Kalimantan Timur (Kaltim. Ikan asin selalu punya tempat tersendiri dalam makanan tradisional Kaltim, dan kehadirannya di piring ini terasa seperti sapaan akrab. Seolah si ibu ingin berkata, “Ini untukmu, biar terasa dekat.”
Soal sate lilit, aku tidak bisa banyak berkata-kata selain: enak. Ayamnya empuk, bumbunya meresap, jelas diolah dengan base genep juga. Bagian luarnya masih menyisakan aroma bakaran yang tipis tapi menggoda. Tidak berlebihan, tidak juga hambar. Pas.
Dan tentu saja, sambal matah. Ini elemen yang tidak boleh dilewatkan. Sambal matah disini berbeda. Rasanya lebih “Bali”, lebih jujur, dan tidak asal pedas. Setiap suapnya seperti mempertegas identitas makanan ini.
Semua yang ada di piring itu masuk ke mulutku, dan entah bagaimana lidahku seperti menari. Mengirim sinyal ke otak, membuatku merasa gembira tanpa alasan besar. Kakiku bahkan refleks bergerak kecil! Itu tanda sederhana perutku benar-benar bahagia.
Kalau kamu datang ke sini, jangan kaget kalau akhirnya ingin kembali lagi. Selain nasi bejek dan sate lilit, mereka juga punya menu khas Bali lain seperti ayam betutu. Ada pula menu yang lebih umum seperti nasi campur, ayam rempah, sampai Indomie goreng. Warung ini tidak memaksa siapapun untuk “harus Bali”, tapi menawarkan rasa dengan tulus.
Catatan kecil tapi penting: jangan datang hari Rabu, karena mereka tutup. Dan kalau mengincar sate lilit, datanglah Sabtu atau Minggu, itupun jangan kesiangan. Biasanya lewat jam 12 siang, sate lilit sudah ludes.
Sebagai seseorang yang tidak mudah jatuh cinta pada makanan, aku percaya pada satu hal: jika sesuatu bisa membuatku kembali berkali-kali, besar kemungkinan ia juga akan disukai orang lain. Semoga, ketika kamu mencobanya nanti, rasanya bisa sama hangatnya seperti yang selalu kurasakan setiap kali duduk dan menyantap sepiring nasi bejek di Warung Telaga Rasa.
Penulis: Devi Mogot


