Ujarku.co – Rudy Mas’ud, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) angkat bicara terkait polemik pengadaan mobil dinas yang ditaksir senilai Rp8,5 miliar yang menuai sorotan karena dinilai bertentangan dengan instruksi Presiden mengenai efisiensi anggaran di daerah.
Menanggapi kritik tersebut, Rudy Mas’ud menjelaskan kendaraan dinas yang dipersoalkan saat ini berada di Jakarta, bukan di Kaltim. Menurutnya, keberadaan mobil tersebut untuk menunjang agenda kepala daerah yang berkaitan dengan kegiatan nasional maupun internasional.
“Mobil Pemprov Kaltim itu baru tersedia yang ada di Jakarta. Kenapa di Jakarta? Karena untuk menunjang kegiatan-kegiatan kepala daerah,” ujarnya saat ditemui di Gedung E, Kantor DPRD Kaltim, Senin (23/2/2026).
Ia menegaskan, posisi strategis Kaltim sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) membuat provinsi ini kerap menerima tamu penting dari berbagai daerah maupun luar negeri. Karena itu, menurutnya, fasilitas kendaraan dinas juga harus mencerminkan representasi daerah.
“Kalimantan Timur adalah miniatur daripada Indonesia. Tamunya bukan hanya kepala daerah se-Indonesia, tapi juga dari global. Masa iya kepala daerahnya pakai mobil ala kadarnya. Jaga dong marwahnya Kaltim,” tegas Rudy.
Terkait spesifikasi kendaraan, Rudy memastikan pengadaan mobil dinas telah mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri. Untuk kepala daerah, kendaraan jenis sedan dibatasi maksimal 3.000 cc, sedangkan jenis jeep maksimal 4.200 cc. Ia menyebut mobil yang diadakan Pemprov Kaltim berkapasitas 3.000 cc.
“Soal harga, ada rupa ada harga, ada mutu, ada kualitas. Kami tidak mengikuti berapa harganya, kami hanya pesan mobilnya itu saja,” katanya.
Rudy Mas’ud juga menegaskan hingga kini dirinya belum menggunakan mobil dinas operasional di Kaltim. Selama menjalankan tugas di daerah, ia mengaku masih memakai kendaraan pribadi meski kondisinya sudah tidak prima.
“Mobil yang ada hari ini adalah mobil pribadi kami pergunakan. Mobil kami hancur semuanya, tapi tidak ada masalah. Ini untuk masyarakat Kalimantan Timur,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Rudy mengingatkan agar polemik tersebut tidak berkembang menjadi perbincangan yang berlebihan, terlebih di bulan Ramadan.
“Kita sedang berpuasa, tolong tidak terlalu banyak gibahnya. Nanti dosanya berlipat ganda,” tutupnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





