Ujarku.co – Manajemen Perumda Tirta Kencana Samarinda kini harus memutar otak guna menjaga stabilitas distribusi air bersih di tengah hantaman kenaikan harga bahan baku industri yang kian mahal. Meski biaya operasional membengkak drastis akibat lonjakan harga BBM dan zat kimia penjernih, perusahaan pelat merah ini menegaskan komitmennya untuk tidak menaikkan tarif air kepada pelanggan dalam waktu dekat.
Upaya efisiensi ini merupakan langkah responsif manajemen usai melakukan evaluasi bersama Panitia Khusus LKPJ DPRD Samarinda. Otoritas penyedia air bersih di Kota Tepian tersebut lebih memilih melakukan perombakan pos anggaran internal guna memastikan kualitas layanan publik tidak merosot akibat tekanan ekonomi global.
Kaharuddin, Direktur Teknik Perumda Tirta Kencana, mengungkapkan tantangan di lapangan saat ini tergolong sangat berat. Harga bahan kimia pengolah air serta BBM industri yang kini menyentuh angka Rp30.000 per liter telah memberikan tekanan besar pada ongkos transportasi dan pengadaan bahan baku utama pengolahan air.
“Kondisi pasar memang sedang menantang karena harga komponen utama penjernihan air terus merangkak naik, bahkan BBM industri sudah tembus Rp30.000. Namun, kami pastikan belum ada rencana kenaikan harga untuk pelanggan. Solusi yang kami ambil adalah melakukan refocusing anggaran secara ketat,” ujar Kaharuddin, Selasa (28/4/2026).
Langkah pengalihan anggaran ini difokuskan pada pemangkasan kegiatan yang bersifat tidak mendesak untuk dialihkan ke pengadaan bahan kimia. Bagi manajemen, menjamin ketersediaan zat pengolah air adalah prioritas mati yang tidak bisa ditawar agar standar kelayakan air yang sampai ke rumah warga tetap terjaga.
Menanggapi suara miring terkait keluhan kenaikan tagihan air di masyarakat, Kaharuddin, memberikan penjelasan fluktuasi harga yang dirasakan warga saat ini merupakan dampak dari penyesuaian tarif sebesar 9 persen yang dilakukan secara bertahap sejak awal tahun, bukan dampak langsung dari kenaikan harga bahan baku saat ini.
“Penyesuaian 9 persen itu sudah kami bagi dalam tiga fase, yakni 3 persen, 4 persen, dan 2 persen yang sudah disosialisasikan sejak lama. Perlu dipahami juga bahwa kami telah menghapus biaya abonemen guna membantu meringankan beban pengeluaran rutin pelanggan,” jelas Kaharuddin.
Selain fokus pada urusan finansial, pihaknya juga terus memperketat pengawasan teknis di lapangan. Setiap keluhan mengenai air keruh maupun macetnya distribusi dipantau secara langsung melalui sistem pengambilan sampel berkala guna memastikan pelayanan tetap berada pada jalur yang optimal.
“Setiap laporan yang masuk pasti kami tindak lanjuti dengan tim lapangan. Fokus utama kami tetap pada kualitas pelayanan publik sembari terus berupaya memberikan kontribusi terbaik bagi pendapatan asli daerah,” pungkas Kaharuddin.(*)
Penulis: Devi Mogot





