Ujarku.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi mengoperasikan 10 unit mesin pemusnah sampah atau insinerator secara bertahap di sembilan kecamatan. Langkah taktis ini menjadi bagian dari komitmen besar Pemkot dalam memperkuat ketahanan iklim secara konkret di lapangan, sekaligus menghindari kegiatan seremonial belaka yang selama ini kerap dipusatkan di dalam gedung atau hotel.
Andi Harun, Wali Kota Samarinda membeberkan kalkulasi teknis dari pengoperasian 10 unit insinerator ini diproyeksikan mampu mereduksi minimal delapan ton sampah per hari untuk satu shift kerja. Ia bahkan membuka peluang untuk meningkatkan intensitas operasional menjadi dua hingga tiga shift guna memaksimalkan pemotongan volume sampah harian.
“Jadi kalau rata-rata misalnya 16 ton dalam satu hari dikali sepuluh, berarti kan ada 160 ton terjadi pengurangan terhadap 600 ton per hari dari jumlah total kita. Nanti kita lihat kalau tenaganya kuat, kita bisa jadikan tiga shift, bahkan bisa empat shift. Kenapa? Itu juga akan membuat para pekerjanya, pengelolanya mendapatkan biaya tambahan. Tapi faktor kelelahan, faktor ketahanan fisik juga harus kita perhatikan,” ujar Andi Harun, Selasa (30/6/2026).
Lebih lanjut, Andi Harun menegaskan sistem mekanis pada insinerator milik Pemkot Samarinda dirancang berbeda dengan teknologi yang diterapkan di daerah lain seperti Bandung atau Depok. Mesin pembakaran lokal ini tidak mengandalkan cerobong asap konvensional, melainkan menggunakan sistem rekayasa pembuangan yang dialirkan langsung ke dalam media air untuk disterilisasi secara berkelanjutan.
“Sebenarnya lebih pada kemampuan kita untuk menjaga stabilitas. Kapasitas panasnya harus kita jaga karena dia harus stabil di 800 derajat Celcius. Anda lihat tadi kita tidak punya cerobong asap. Itu hanya mengalirkan ke air. Nanti airnya disterilisasi-sterilisasi, tapi kita terus akan sempurnakan. Namanya teknologi baru, kita akan evaluasi terus secara berkelanjutan,” lanjut Andi Harun.
Klaim keunggulan teknologi tersebut diperkuat oleh penjelasan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda. Suwarso, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Samarinda mengakui fase awal pengoperasian massal ini tidak luput dari dinamika serta hambatan operasional, termasuk adanya keluhan visual mengenai munculnya kepulan asap yang sempat menebal di beberapa titik lokasi tungku pembakaran.

Suwarso mengonfirmasi seluruh mesin pada dasarnya telah siap beroperasi penuh sejak sepekan terakhir. Kendala minor yang sempat tersisa di titik Tani Aman mengenai pasokan air langsung diantisipasi lewat jaringan kelurahan, sementara persoalan asap dipicu oleh karakteristik sampah yang belum terpilah sempurna.
“Berasap ini memang idealnya memang harus ditambah dengan kayu pembakaran. Kalau semuanya, mungkin juga ada diduga ada sampah basah masuk, jadi akhirnya menimbulkan asap agak tebal. Tapi perjalanan waktu sudah diuji kualitas udaranya itu masih di bawah ambang batas, masih aman. Dan ini tapi sekali lagi memang harus kita cari terus solusi untuk mengurangi asapnya ini ya, misalnya dengan menambah bahan bakar bahan-bahan sampah yang kering,” jelas Suwarso.
Guna meminimalisasi munculnya partikel asap tebal ke udara bebas, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama DLH sepakat untuk memperketat benteng filterisasi sampah di tingkat hilir dengan memaksimalkan peran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) pemilah yang dibangun berdampingan di area hanggar insinerator.
Melalui skema baru ini, pasokan sampah yang masuk wajib dipisahkan berdasarkan karakteristik biologisnya. Material sampah yang berada dalam kondisi kering akan langsung diarahkan menuju tungku pembakaran 800 derajat Celcius, sedangkan jenis sampah organik atau sampah basah akan dipisahkan secara komunal untuk diproduksi menjadi pupuk kompos.
“Sangat penting, jadi dominan pemilahan. Nanti residunya baru dibuang ke TPA. Dan di lokasi ini teman-teman media sudah saksikan ada khusus pemilahannya di insinerator, bak-baknya di sebelahnya kan ada TPST pemilah. Jadi ya ini akan kita terapkan, pilah dulu, dibakar sebagian yang kering, yang sampah basahnya untuk pupuk, residunya baru ke TPA,” pungkas Suwarso.(*)
Penulis: Devi Mogot





