Ujarku.co – Hilirisasi industri peternakan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki babak baru dengan hadirnya Rumah Produksi Bersama (RPB) pakan ternak pertama di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pabrik senilai Rp8,3 miliar yang didanai melalui APBD Kaltim ini diproyeksikan menjadi senjata utama pemerintah daerah dalam menekan tingginya biaya produksi para peternak lokal.
Fasilitas modern ini dikelola langsung oleh Koperasi Produsen Bangun Karya Bersinar yang beranggotakan 50 orang. Kehadiran RPB ini ditargetkan mampu memangkas harga pakan ternak di pasaran hingga 20 sampai 30 persen lebih murah dari produk sejenis, sehingga dapat mendongkrak margin keuntungan usaha para peternak mandiri secara signifikan.
Rudy Mas’ud, Gubernur Kaltim, menegaskan kehadiran RPB ini memiliki nilai strategis yang sangat besar karena langsung menyentuh pemenuhan kebutuhan primer di sektor peternakan dan perikanan budidaya.
“Saya sangat berharap RPB ini bisa menjadi solusi ketahanan pangan terutama penyediaan pakan untuk ternak dan budidaya perikanan,” ujar Rudy Mas’ud saat meninjau lokasi fasilitas tersebut, Jumat (2/7/2026).
Berdiri di atas lahan seluas 10.566 meter persegi dengan bangunan pabrik kokoh berbahan baja IWF, RPB ini dibekali mesin modern yang memiliki kapasitas produksi hingga 1 ton per jam. Jika beroperasi penuh selama 8 jam kerja dalam 25 hari sebulan, pabrik ini mampu menyuplai hingga 200 ton pakan per bulan.
Meski begitu, operasional pabrik saat ini baru berjalan sekitar 10 persen dari total kapasitas rencana atau berkisar pada angka 20 ton per bulan dalam masa uji coba. Guna mengoptimalkan utilitas mesin, pemerintah daerah telah menginstruksikan manajemen pengelola untuk membagi lini produksi secara adil guna merespons kebutuhan dua sektor sekaligus.
“Harus disetel untuk dua hasil produksi. Yakni pakan ternak dan pakan ikan (pelet apung). Dengan operasional dua minggu pakan ternak dan dua minggu pelet apung,” kata Rudy Mas’ud.
Selain fungsi ekonomi untuk menekan biaya operasional peternak, keberadaan RPB pakan ternak ini juga disiapkan sebagai fondasi kuat dalam mendukung kebijakan nasional, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasokan pakan yang stabil dan murah diharapkan mampu memacu produktivitas daging ayam dan telur lokal secara masif.
“Hasil dari peternakan dan perikanan bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan daging ayam dan ikan untuk MBG,” tutur Rudy Mas’ud.
Heni Purwaningsih, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, merincikan total investasi Rp8,3 miliar tersebut dialokasikan untuk nilai fisik bangunan final sebesar Rp6,2 miliar serta pagu pengadaan alat produksi sebesar Rp2,1 miliar.
Dari sisi pasokan, operasional pabrik didukung penuh oleh ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah seperti jagung dari petani Kembang Janggut, bungkil sawit, minyak sawit mentah (CPO), tepung ikan, hingga tepung kepala udang.
Berdasarkan studi kelayakan finansial, investasi besar ini dinilai sangat prospektif dengan mencatatkan nilai bersih sekarang (NPV) positif sebesar Rp4,2 miliar, tingkat pengembalian modal (IRR) sebesar 18,5 persen, serta diproyeksikan mencapai masa pengembalian investasi (payback period) dalam kurun waktu 4,2 tahun.
Kendati memiliki prospek cerah, tantangan nyata masih membayangi pengelola di lapangan. Manajemen koperasi saat ini masih dihadapkan pada keterbatasan anggaran untuk penyempurnaan fasilitas penunjang fisik bangunan, seperti akses jalan untuk mobil pemuatan, saluran air, jembatan penghubung, serta kebutuhan alat pertanian pendukung guna memastikan kelancaran pasokan bahan baku secara berkelanjutan.(*)
Penulis: Devi Mogot


