Ujarku.co – Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) mematok target pendapatan yang agresif pada sektor ekonomi kreatif (ekraf) senilai Rp41,6 miliar. Target tersebut dipasang setelah melihat tren pertumbuhan positif dan kontribusi sektor berbasis kreativitas ini yang kian mendominasi struktur perekonomian di Benua Etam.
Peningkatan target ini dinilai serealistis mungkin mengingat performa pendapatan ekraf pada tahun sebelumnya sukses menyentuh realisasi di angka Rp36,84 miliar. Selain itu, geliat dari berbagai subsektor seperti kuliner, fesyen, kriya, fotografi, film, animasi, desain, aplikasi digital, hingga seni pertunjukan terbukti mampu memberikan stimulan ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Awang Khaliq, Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dispar Kaltim membeberkan lonjakan peran ekraf terlihat sangat kontras dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah yang merangkak naik dalam dua tahun terakhir.
“Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDRB Kalimantan Timur mengalami peningkatan dari 5,63 persen pada 2024 menjadi 6,19 persen pada 2025,” ujar Awang Khaliq.
Guna mengejar sisa target pendapatan di tahun ini, Dispar Kaltim telah merancang skenario penguatan ekosistem ekraf melalui percepatan transformasi digital secara masif. Langkah ini bertumpu pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), penajaman talenta digital, serta program inkubasi bagi usaha rintisan (startup) berbasis kreativitas.
Para pelaku UMKM kreatif di seluruh kabupaten dan kota didorong untuk beralih menggunakan ekosistem digital dalam rantai bisnisnya. Pemerintah daerah mengintervensi hal tersebut lewat pengembangan metode pemasaran daring (online marketing), standardisasi sistem pembayaran nontunai, integrasi layanan logistik, hingga penyediaan katalog produk digital untuk mendobrak sekat pasar tradisional.
“Kami terus memperkuat berbagai subsektor ekonomi kreatif agar mampu tumbuh lebih cepat dan memiliki daya saing yang lebih tinggi, baik di tingkat regional maupun nasional,” lanjut Awang Khaliq
Dalam implementasi lapangan, Dispar Kaltim mengoptimalkan peran fasilitas Temindung Creative Hub sebagai laboratorium utama pengembangan karya kreatif lokal. Gedung tersebut difungsikan sebagai pusat produksi, ruang inkubasi, dan wadah kolaborasi bagi para pelaku industri yang bergerak di sektor film, animasi, fotografi, televisi, radio, hingga pembuatan konten podcast.
Pada saat yang sama, modernisasi industri pengolahan makanan dan minuman berbasis ekraf turut digenjot. Untuk mendukung kelancaran ekosistem digital tersebut, pemerintah daerah memprioritaskan perluasan jaringan internet di wilayah-wilayah yang aksesnya masih terbatas agar distribusi produk lokal tidak terhambat.
“Kami juga melakukan pengembangan ekonomi kreatif berbasis lapangan usaha dengan modernisasi industri pengolahan, memperkuat konektivitas internet di daerah, serta mengoptimalkan distribusi produk melalui ritel modern, e-commerce, dan berbagai platform pasar digital,” jelas Awang Khaliq.
Upaya menaikkan kelas produk ekraf lokal juga ditempuh melalui pembentukan sentra produksi bersama bagi UMKM di daerah. Program fisik ini dibarengi dengan standarisasi produk, mulai dari pembenahan estetika kemasan, fasilitasi sertifikasi halal, hingga pemenuhan regulasi kesehatan dan keamanan pangan dari instansi terkait.
Sebagai langkah perlindungan hukum, Dispar Kaltim ikut mendampingi para pelaku usaha kreatif untuk mengurus kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB), memperkuat identitas merek (branding), hingga membuka akses ke rantai pasok distribusi modern. Terlebih, kehadiran kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim ditangkap sebagai peluang pasar baru yang sangat menjanjikan.
“Termasuk memfasilitasi kepemilikan NIB, penguatan merek, perluasan akses ke rantai pasok, hingga membangun konektivitas pasar dengan kawasan IKN agar produk ekonomi kreatif Kalimantan Timur semakin kompetitif,” pungkas Awang Khaliq.(*)
Penulis: Devi Mogot





