Ujarku.co – Muhammad Novan Syahronie Pasie, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, mengaku terkejut dengan adanya temuan data ribuan anak di Samarinda yang terdeteksi tidak mengenyam bangku pendidikan formal. Berdasarkan himpunan data lintas instansi, angka anak yang belum atau putus sekolah di Samarinda saat ini dilaporkan menembus kisaran 6.000 anak.
Data mencengangkan tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Pihaknya menilai temuan ini harus menjadi alarm keras bagi jalannya roda pemerintahan daerah dalam menjamin hak dasar pendidikan masyarakat.
Novan mengungkapkan persoalan pelik ini kian diperparah oleh kendala finansial daerah. Akibat kebijakan efisiensi anggaran yang melanda pos bidang kerja terkait, upaya untuk melakukan verifikasi ulang atau penyaringan faktual guna mencari tahu penyebab utama ribuan anak tersebut putus sekolah menjadi terhambat.
“Berdasarkan data gabungan lintas OPD yang kami terima, angkanya cukup mengejutkan karena ada kurang lebih 6.000 anak di berbagai tingkatan sekolah yang terdata belum bersekolah. Namun, yang menjadi persoalan hari ini adalah pihak instansi terkait belum bisa melakukan validasi ulang secara mendalam di lapangan akibat ketiadaan alokasi anggaran operasional tersebut,” ujar Novan.
Komisi IV DPRD Samarinda menegaskan kepastian validitas data ini sangat krusial agar formula penanganan yang diambil oleh pemerintah kota nantinya bisa tepat sasaran, baik melalui skema beasiswa maupun pembiayaan sekolah alternatif.
Oleh karena itu, Novan mendesak jajaran eksekutif untuk segera mencarikan solusi pembiayaan taktis agar proses pelacakan identitas dan domisili 6.000 anak rentan tersebut dapat diselesaikan sebelum memasuki tahun anggaran baru.
“Jumlah ini harus dipastikan dan diverifikasi kembali secara langsung ke lapangan agar pemerintah tidak salah dalam mengambil kebijakan. Kami di legislatif mendorong penuh agar program pengetasan anak putus sekolah ini diprioritaskan dukungannya, karena menyangkut masa depan generasi muda dan kualitas sumber daya manusia di Kota Samarinda,” pungkas Novan.(ADV)





