Sudut Pandang Redaksi
Kalau Makmur HAPK itu kesatria, kisahnya mirip-mirip tokoh wayang Sumantri Bin Maharesi Swandagni.
Mengutip “Tripama” gubahan Kanjeng Gusti Mangkunegara IV, ciri kesatria tangguh itu di antaranya; guna, kaya, dan purun.
Kesemuanya dipunyai Sumantri Bin Maharesi Swandagni.
Begini kisahnya.
Ujarku.co
Namanya Patih Sumantri dari Maespati, awalnya bukan siapa-siapa.
Saat seumur jagung, Sumantri telah beranjak dari Pertapaan Jatisarana, menuju Keraton Maespati.
Tujuannya, jadi pengabdi untuk Maharaja Harjuna Sasrabahu. Pinangan diterima Sang Prabu, tapi ada syaratnya.
Suwanda mesti wajib mengambil putri jelita asal Magada, Dewi Citrawati.
Kembang desa andalan negara, punya rambut hitam panjang keladuk wilis.
Sebagai kesatria, pantang pulang petang, pantang gagal di medan juang.
Sumantri menyelesaikan tugasnya.
Dewi Citrawati berhasil diboyong. Sumantri disanjung, Sumantri dijunjung.
Diangkatlah Sumantri menjadi mahapatih, bergelar Mahapatih Suwanda, nama itu lalu melekat di dirinya.
Dengan sumpah yang menggelegar mirip-mirip Sumpah Palapa-nya Gajah Mada, Suwanda akan membaktikan diri untuk negara.
Tapi sayang seribu sayang, Sumantri hanyalah juga manusia. Lelaki tangguh itu butuh cinta.
Karunia tuhan, Sumantri jatuh cinta pada Citrawati. Apakah itu kesalahan, siapa yang bisa menilai.
Asmara itu tentu saja halu. Sehalu perasaan cinta Karna ke Drupadi, atau setabu sayangnya Rahwana ke Shinta.
Pokoknya tidak boleh terjadi, titik!
Harjuna naik pitam.

Maharaja Harjuna, meski titisan Wisnu, tapi ia tak sebaik itu. Harjuna murka pada Sumantri.
Walau punya kesetiaan 3000 persen, Sumantri dapat bala.
Bala itu pula lah yang mungkin dirasakan Makmur HAPK.
Gimanapun juga Makmur itu manusia, pastilah mencintai posisinya sebagai Ketua DPRD Kaltim.
Kalau boleh cocoklogi, kisah Makmur HAPK ini mirip-mirip dengan Suwanda.
Priyantun Berau itu, punya kisah yang berujung ngenes.
Puluhan tahun mengabdi untuk Golkar.
Memulai karir sebagai Abdi Negara, melenggang mulus menjadi Bupati Berau, dua periode.
Makmur makin bersinar usai duduk di kursi Ketua DPRD Kaltim.
Tapi itu tak berlangsung lama, ia disunat. Makmur disleding dari kursi empuknya di Karang Paci.
Dituduh tak patuh perintah partai, gagal menjalankan misi, juga indisipliner.
Wajar Makmur mengkel, sebab risiko tuduhan itu tidak enteng.
Versi yang lebih horor, Makmur bisa saja bernasib seperti Solbodan Milosevic, Presiden Serbia.
Atau bernasib serupa seperti Jenderal Besar Pinochet dari Cile.
Sepertinya berlebihan, karena dua tokoh itu dianggap penjahat. Masa Pak Makmur jahat. Bagi Golkar pun rasa-rasanya tidak akan menganggap Makmur itu jahat.
Hanya tidak patuh pada partai.
Tuduhan itu membawa Rudi Masud, mengirimkan usulan pergantian jabatan Ketua DPRD Kaltim.
Rudi tentu saja mengusulkan saudaranya, Hasan Masud, menjadi ketua dewan. Gimanapun juga, kasih saudara sepanjang masa.
Polemik terjadi.
Pertarungan adu sakti berjalan di banyak panggung mulai dari Mahkamah Partai Golkar, Mahkamah Agung, sampai Pengadilan Negeri Samarinda.
Makmur sempat menang, tatkala Majelis Hakim PN Samarinda, mengabulkan sebagian gugatannya.
Makmur dinyatakan sah dan meyakinkan berhak atas kursi Ketua DPRD Kaltim.
Golkar keberatan, lalu menggugat balik.
Hasil akhir berbalik arah. Makmur resmi kalah. Walau masih ada jalan lain. Kasasi!
Makmur mungkin saja telah kehilangan takhtanya di Golkar maupun DPRD, tapi ia masih akan setia pada partai.
Mungkin saja.
Sumantri pun serupa, setia mati di bawah naungan Maespati. Lalu dia beneran mati.
Di akhir kisah, Sumantri menemui ajal setelah lehernya digigit Maharaja Rahwana dari Alengka. Kata sesepuh, itu cara meninggal paling menyakitkan.
Mungkin Makmur HAPK tidak akan bernasip serupa Sumantri. Tapi, ditendang Golkar dari skema politik, itu sama-sama saja sakitnya. (*)
Penulis; str/Ujarku.co


