Ancaman El Nino dan Intrusi Air Asin Mengintai, Perumdam Tirta Kencana Minta Warga Samarinda Tampung Air

Kaharuddin, Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana Samarinda

Ujarku.co – Masyarakat Samarinda diminta segera memperbesar kapasitas penampungan air di rumah masing-masing menyusul adanya peringatan dini terkait gejala El Nino yang diprediksi melanda Kalimantan Timur (Kaltim) hingga Oktober mendatang. Kondisi ini diperparah dengan suhu ekstrem di wilayah Kaltim yang mencapai puncaknya pada April ini, sehingga meningkatkan risiko penurunan debit air baku hingga potensi intrusi air asin ke jalur distribusi.

Berdasarkan data terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum di Kaltim pada periode April 2026 ini merangkak naik di kisaran 33°C hingga 35,5°C. Tingginya suhu udara yang dibarengi dengan indeks ultraviolet pada kategori sangat tinggi ini memicu penguapan air permukaan yang lebih cepat di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Kaharuddin, Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana Samarinda, mengungkapkan fenomena iklim ini akan berdampak langsung pada stabilitas produksi air bersih di Kota Tepian. Prediksi BMKG yang menunjukkan adanya fase El Nino moderat menjadi alarm bagi perusahaan daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi sebelum dampak kekeringan semakin meluas.

“Prediksi BMKG di bulan April sampai Oktober nanti memang ada gejala El Nino yang berdampak pada daerah kita. Imbauan kami kepada masyarakat adalah senantiasa membuat penampungan yang lebih besar agar saat terjadi gangguan produksi, cadangan air di rumah tetap aman,” ujar Kaharuddin, Selasa (28/4/2026).

Kekhawatiran utama pihak Perumdam adalah terjadinya intrusi air asin, di mana air laut merayap masuk ke hulu sungai akibat mengecilnya debit air tawar dari hulu. BMKG mencatat curah hujan di Kaltim saat ini berada di bawah normal atau hanya sekitar 20 hingga 50 persen dari rata-rata bulanan, yang memperbesar peluang air laut mencemari sumber air baku di instalasi pengolahan.

Kaharuddin, menjelaskan jika kadar garam meningkat drastis, sistem produksi terpaksa harus dikurangi atau bahkan dihentikan sementara demi menjaga keamanan mesin pengolahan. Oleh karena itu, kesiapan warga dalam menyediakan tandon atau bak penampungan menjadi kunci utama dalam menghadapi masa sulit ini.

“Mudah-mudahan dampaknya tidak terlalu besar, tapi secara teknis biasanya akan ada pengurangan debit atau sewaktu-waktu stop produksi akibat intrusi. Ketika distribusi sedang mengalir, segera tampung lagi, karena cadangan mandiri sangat membantu saat distribusi terhenti,” jelas Kaharuddin.

Meskipun cuaca di Kaltim sedang berada pada titik panas menyengat, pihak Perumdam memastikan hingga akhir April ini kondisi air baku di Sungai Mahakam masih dalam ambang batas normal dan belum terpapar air asin. Namun, pemantauan kualitas air terus dilakukan secara intensif mengingat titik panas atau hotspot di wilayah sekitar Kaltim juga dilaporkan mulai meningkat akibat cuaca panas yang persisten.

“Hingga hari ini air asin belum masuk ke sistem kita. Namun dengan kondisi panas ekstrem yang kita rasakan saat ini, antisipasi melalui penampungan air di rumah-rumah harus dimulai dari sekarang agar masyarakat tidak kesulitan saat puncak kemarau nanti,” pungkas Kaharuddin.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar