Ujarku.co – Aroma seni dan semangat muda kembali terasa di Auditorium Universitas Mulawarman (Unmul). Selama lima hari, dari 11 hingga 15 November 2025, panggung itu menjadi rumah bagi pelajar yang datang membawa cerita, gerak, dan perasaan melalui gelaran Apresiasi Seniman dan Sastra (Apsetra) ke-13, yang diinisiasi oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa Unmul.
Febriana, Ketua UKM Teater Yupa Unmul, bercerita tentang perjalanan panjang Apsetra yang kini telah berusia lebih dari seperempat abad.
“Apsetra ini sudah kami jalankan selama kurang lebih 26 tahun. Karena diadakan dua tahun sekali, tahun ini menjadi yang ke-13,” tuturnya, Rabu malam (12/11/25).
Menurutnya, Apsetra bukan sekadar ajang pertunjukan, tetapi juga ruang perjumpaan dan pembelajaran antar-seniman muda.
“Kami ingin memberi wadah bagi para pelajar di Kalimantan Timur, juga Indonesia agar mereka punya ruang untuk mengekspresikan diri, bertumbuh, dan berani bercerita lewat teater,” katanya.
Tahun ini, empat kelompok teater pelajar terpilih setelah melewati proses kurasi yang cermat. Mereka adalah Teater Oase dari SMAN 4 Berau, Teater Karang dari SMAN 3 Samarinda, Teater Warna dari SMK TI Labaika Samarinda, dan Teater Mahardika dari SMAN 8 Samarinda.
“Kami ingin melihat sejauh mana perkembangan teater pelajar di Kaltim, baik dari penggarapan naskah, penyutradaraan, hingga penyampaian makna di atas panggung,” ujar Febriana.

Ada sesuatu yang istimewa dari setiap penyelenggaraan Apsetra. Tahun ini, UKM Teater Yupa Unmul mengundang tiga juri dengan latar belakang yang beragam. Dari Banten, hadir RA. Yopi Hendrawan Utoyo, sutradara sekaligus penulis naskah yang juga pendiri Ruang Kreatif Halaman Budaya. Dari Kalimantan Timur, dua nama yang tak asing di dunia seni turut menilai, yakni Sigit Hadi Suyitno dan Eka Yusriansyah, akademisi Fakultas Ilmu Budaya Unmul.
Febriana bercerita kehadiran para juri bukan hanya untuk menilai, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi peserta.
Selain pementasan, Apsetra XIII juga menghadirkan workshop keaktoran dan tata rias panggung pada 14 November. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Teater Yupa untuk memastikan peserta tidak hanya tampil, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru dalam proses kreatif mereka.
Setiap pementasan Apsetra selalu diakhiri dengan diskusi karya, sesi yang bagi Febriana sangat berarti. Di sana, para peserta duduk melingkar, berbagi pandangan tentang makna, konsep, dan pesan yang tersirat dalam pertunjukan.
“Dari diskusi itu, kita saling memahami dan saling belajar karena setiap pementasan punya konsep yang berbeda-beda” ujarnya.
Febriana menutup dengan harapan sederhana, ia berharap agar teater pelajar di Kalimantan Timur terus tumbuh dan tidak pernah berhenti mencipta.
“Semoga dari panggung kecil ini, teater pelajar di Kaltim terus berkembang. Terkhusus untuk peserta yang berpartisipasi bisa mengambil dan menerapkan ilmu di teater mereka masing-masing,” tutup Febriana.(*)
Penulis: Devi Mogot





