Ibu Sri Sudarwati namanya.
Berhenti dari tenaga honorer di Kukar.
Mengenyam pelatihan, lalu terbit sebagai petani hidroponik di Ibu Kota Nusantara.
Ibu Sri mengajarkan kita, tentang lirik lagi Banda Neira; “yang patah tumbuh, yang hilang berganti”
///
Ujarku.co
Ibu Sri Sudarwati, usia tahun ini (2023) di angka 47 tahun.
Perempuan asli Sepaku (kini wilayah Ibu Kota Nusantara).
16 tahun jadi pegawai honorer di Tenggarong, Kukar. Ia berhenti, lalu pulang ke kampung halaman Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku.
“Karena rumah saya berada di wilayah IKN, selain ingin merawat orang tua, saya melihat ada peluang usaha,” ungkap Ibu Sri.
Di desa itu, Ibu Sri bersama 31 warga lainnya mengikuti program pelatihan bercocok tanam hidroponik oleh Otorita IKN.
“Awalnya hobi saja, Alhamdulillah Juli tahun lalu ada pelatihan, lalu saya ikut,” ucapnya.
Usai pelatihan, hatinya mantap menekuni bisnis pertanian hidroponik.
Marketnya jelas, berada di Ibu Kota Nusantara, dengan seribu janjinya.
Langsung berbuah hasil?, tentu tidak.
Sepaku, bukanlah kota ramai, hanya sebuah kecamatan. Sayur hidroponik belum punya panggung di sana.
Masyarakat masih baru dengan pola pertanian hidroponik. Mereka sudah terbiasa menam di lahan tanah ladang.
Para pedagang pun ogah mengepul lantaran harganya yang lebih tinggi dari sayuran biasa.
Para petani menjualnya seharga Rp 8 ribu per pak, isinya sayuran dari 3-4 lubang tanam. Namun lambat laun, hasil kebunnya diterima dan laris.
Biasakan diri, waktu menjawab usaha Ibu Sri.
Kini, usaha hidroponiknya bahkan kesulitan memenuhi permintaan pasar.
Seiring dengan pesatnya pembangunan Nusantara semakin banyak pekerja yang datang membuat kebutuhan sayuran meningkat.
Inilah yang membuat sayurannya selalu habis.
“Padahal potensi pasar masih besar, ada kebutuhan salada di Balikpapan yang belum bisa dipenuhi, ada permintaan 100-200 pak setiap hari,”
“Alhamdulillah, baru dapat tambahan modal dari perusahaan BUMN, jadi saya bisa menambah greenhouse bersama teman-teman kelompok,”

Warga di wilayah Nusantara, tepatnya di Desa Suka Raja, Kecamatan Sepaku yang kini aktif menanam sayuran seperti pokcoy dan salada dengan cara hidroponik sukses meraih keuntungan.
“Berkat pelatihan saya sukses menanam pokcoy dan salada, sekarang setiap panen saya bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 3-4 juta,”
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Bambang Susantono sangat senang dengan suksesnya pelatihan yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi (upskilling) terutama bagi warga yang kini berkebun hidroponik.
“Sesuai harapan dan tujuan kami bahwa kehadiran Ibu Kota Nusantara untuk memberdayakan masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Bambang.
Bambang memastikan berbagai program pelatihan yang dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja serta didukung OIKN untuk pemberdayaan masyarakat akan terus berjalan. Program tersebut beriringan dengan pembangunan Nusantara.
“Nantinya masyarakat sekitar yang menjadi aktor utama yang menggerakkan ekonomi sehingga tujuan kami sebagai segitiga superhub ekonomi yakni Nusantara, Balikpapan dan Samarinda akan tercapai,” ungkapnya. (*)
Penulis; SL/Ujarku.co


