Bukan Langka, DPPKUKM Kaltim Ungkap Kenaikan Harga Bapok Dipicu Lonjakan Biaya BBM

Ilustrasi

Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov ) Kalimantan Timur (Kaltim) menjamin pasokan bahan pokok penting di pasaran dalam kondisi aman dan mencukupi menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha. Kendati stok melimpah, Pemprov tidak menampik adanya tren kenaikan harga pada sejumlah komoditas strategis akibat terbebani pembengkakan biaya distribusi logistik. Kenaikan harga bahan bakar minyak diidentifikasi sebagai faktor utama yang memicu gejolak harga di tingkat pedagang pasar saat ini.

“Kita sudah tahu harga BBM naik berapa persen. Sedangkan biaya distribusi itu salah satu komponennya adalah biaya bahan bakar. Ini juga sudah disuarakan oleh pedagang maupun distributor. Jadi kenaikan ini bukan karena kelangkaan,” ungkap Heni Purwaningsih, Kepala DPPKUKM Kaltim.

Guna meredam lonjakan yang lebih liar, pemerintah daerah memperketat pengawasan terhadap komoditas yang sudah memiliki ketentuan regulasi Harga Eceran Tertinggi, seperti minyak goreng dan beras. Seluruh distributor dan pedagang diwajibkan mematuhi batasan harga tersebut dan dilarang keras memanfaatkan momentum hari raya untuk melakukan spekulasi sepihak.

Di sisi lain, DPPKUKM juga telah menginstruksikan para pelaku usaha logistik untuk memaksimalkan penggunaan solar subsidi demi memotong rantai pembengkakan biaya transportasi di lapangan. Langkah ini dinilai krusial agar arus distribusi pangan ke pelosok daerah tidak mengalami hambatan teknis.

“Kemarin kami edukasi distributor dan pedagang, kalau terkait kebutuhan umum dan bahan pokok diupayakan menggunakan solar subsidi supaya distribusi tidak terganggu,” lanjut Heni Purwaningsih.

Selain komoditas kering, sektor protein seperti daging sapi juga mulai merangkak naik karena struktur pasokannya yang masih bergantung pada pasokan luar pulau. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasokan daging ayam yang diklaim sudah swasembada, di mana 80 hingga 90 persen kebutuhan pasar mampu dipenuhi oleh peternak lokal Kaltim.

Sebagai langkah alternatif untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, pemerintah kini mulai mengguyur pasar dengan opsi produk daging beku yang harganya jauh lebih ramah di kantong. Pemerintah provinsi mencatat, grafik inflasi pada awal Mei ini sebenarnya menunjukkan tren penurunan dibanding April lalu, yang menandakan bahwa intervensi pasar yang dilakukan sejauh ini masih berada di jalur yang tepat.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar