Ujarku.co – Debat Pilkada Kalimantan Timur 2024 memanas ketika dua kandidat, Isran Noor dan Rudy Mas’ud bersilang pendapat soal pendidikan gratis.
Pada sesi tanya jawab, Rudy melontarkan pertanyaan yang seakan menampar kebijakan petahana.
“Menurut undang-undang, kelompok rentan berhak atas jaminan sosial, kesehatan, dan pendidikan berkualitas. Jadi, mana yang lebih bagus? Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang hanya mencakup 33 persen dari siswa dan mahasiswa atau program pendidikan GRATISPOL! yang mencakup 100 persen?” tanya Rudy, seakan meragukan komitmen Isran terhadap akses pendidikan.
Isran pun membela diri, mengingatkan publik sebagai Gubernur Kaltim periode 2018-2023, ia telah mengupayakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui program pendidikan yang, menurutnya, sudah disesuaikan dengan kemampuan anggaran.
Namun, yang lebih menarik adalah klaimnya pendidikan gratis tidak ada di dunia ini, sebuah argumen yang tampak mengabaikan fakta di beberapa negara.
“Setahu saya, di dunia ini tidak ada pendidikan gratis, bahkan di Arab Saudi sekalipun. Jerman mungkin, tetapi keluarga tetap menanggung biaya tertentu,” ujar Isran.
Isran menyebut BKT sudah mengucurkan bantuan bagi 215.000 pelajar dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.
“Jakarta mungkin punya anggaran lebih besar, tapi tidak merata seperti di Kaltim. Kalau terpilih lagi, saya akan anggarkan Rp5 triliun untuk BKT. Ini bukan janji, tapi kepastian. Pahamlah ikam?” tantangnya.
Rudy tak tinggal diam. Merespons argumen Isran, ia menyebutkan beberapa negara yang menawarkan pendidikan gratis, seperti Mesir dan Pakistan, sebagai bukti nyata atas pendidikan tanpa biaya bukan hal mustahil.
“Kalau kurang wawasan, ya beginilah jadinya. Di Afrika saja, Mesir memberikan pendidikan gratis sampai S3. Begitu juga di Pakistan,” sindir Rudy.
Rudy mengkritik besarnya APBD Kaltim, yang disebutnya tidak memadai bagi sektor pendidikan meski mencapai lebih dari Rp20 triliun.
“Dengan anggaran sebesar itu, bukankah bisa lebih dari minimum 20 persen yang diamanatkan undang-undang? Siswa dan mahasiswa hanya butuh sekitar Rp1,7 triliun. Apa gunanya APBD besar kalau hanya disisihkan?” sindirnya lagi.
Ia turut mengungkit pula SiLPA Kaltim tahun 2022 yang mencapai Rp6,6 triliun. Menurut Rudy, hal tersebut menunjukkan pemerintah yang ada tidak peduli terhadap rakyatnya. Melalui programnya, GRATISPOL!, Rudy berjanji akan menuntaskan kemiskinan dengan akses pendidikan yang benar-benar gratis, tanpa basa-basi.
“Karena hanya pendidikan yang bisa memutus rantai kemiskinan,” tegasnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





