Ujarku.co – Jaya Mualimin, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim), meminta masyarakat tidak cemas terkait beredarnya surat edaran redistribusi kepesertaan jaminan kesehatan. Jaya menegaskan pelayanan kesehatan gratis bagi warga yang membutuhkan dipastikan tetap berjalan.
“Surat edaran itu tidak final. Di poin keempat sudah tertulis bahwa program pelayanan kesehatan bermutu tetap berjalan. Jadi masyarakat jangan panik, pelayanan kesehatan itu tanggung jawab bersama,” ujar Jaya, Selasa (14/4/2026).
Jaya mengungkapkan, saat ini fokus Pemprov Kaltim bukan hanya terpaku pada persoalan pembayaran premi semata. Pihaknya sedang mengalokasikan anggaran besar untuk menambal kekurangan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di daerah.
“Jujur, yang kami pikirkan bukan hanya premi. Kami sedang memikirkan kekurangan dokter spesialis yang butuh anggaran sekitar 10 miliar tahun ini. Belum lagi untuk alat kesehatan dan obat-obatan di seluruh puskesmas se-Kaltim,” jelasnya.
Menurut Jaya, surat yang beredar saat ini hanyalah bersifat pemberitahuan kepada pemerintah kabupaten dan kota, serta belum merupakan keputusan resmi atau Surat Keputusan (SK) Gubernur. Pihaknya pun masih melakukan analisis mendalam terkait kebijakan tersebut.
“Ini belum bentuk SK dari Pak Gubernur, baru sebatas pemberitahuan. Saya pribadi masih menunggu arahan lebih lanjut, jadi statusnya memang belum final,” tegas Jaya.
Guna mengakhiri polemik yang terjadi di masyarakat, Jaya mendorong agar Wali Kota Samarinda dan Gubernur Kaltim segera bertemu. Menurutnya, koordinasi langsung antar-pemimpin daerah adalah solusi terbaik saat ini.
“Kami mendorong agar kedua pimpinan segera duduk bersama membahas polemik ini lebih lanjut demi kepentingan warga,” tuturnya.
Di akhir keterangannya, Jaya mengakui adanya hambatan dalam penyampaian informasi ke publik yang memicu kegaduhan. Ia menekankan pentingnya kematangan dalam menjalin komunikasi antar-instansi.
“Kami akui ada noises komunikasi di internal kami. Intinya, komunikasi itu harus dibangun atas dasar kematangan mental, bukan sekadar antisipan,” pungkasnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





