Ujarku.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda meningkatkan upaya pencegahan stunting melalui deteksi dini gangguan pertumbuhan dan gizi anak. Rudy Agus Arianto, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Samarinda, menegaskan intervensi harus dilakukan sebelum anak terlanjur mengalami stunting.
“Yang kita cegah itu justru sebelum stunting. Mulai dari bayi dengan berat lahir rendah, berat badan yang turun, hingga gizi kurang sudah harus kita tangani,” ungkap Rudy beberapa hari lalu.
Menurutnya, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan survei, angka stunting di Kota Samarinda mengalami penurunan sekitar 4 persen.
“Ini kejutan yang menyenangkan. Artinya Samarinda sudah berada di jalur yang benar,” katanya.
Rudy menekankan peran Posyandu sebagai ujung tombak pemantauan pertumbuhan anak. Dengan lokasi yang dekat dan layanan gratis, Posyandu dinilai mampu memberikan pemantauan kualitas setara fasilitas kesehatan lainnya.
“Posyandu itu ada di sekitar tempat tinggal. Tidak perlu kartu BPJS, tidak perlu bayar, dan kualitas pemantauan pertumbuhannya setara dengan dokter atau klinik. Jadi masyarakat jangan ragu untuk datang,” jelasnya.
Saat ini, prevalensi stunting di Samarinda tercatat 20,2 persen. DKK menargetkan penurunan menjadi 18,3 persen pada 2029, lebih rendah dari target nasional 19 persen.
“Kalau upaya pencegahan terus berjalan, saya optimis bisa lebih rendah lagi. Tapi DKK tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengajak media untuk berperan aktif memberitakan isu kesehatan, termasuk edukasi tentang stunting, guna meningkatkan kesadaran masyarakat. Rudy menambahkan, tantangan terbesar masih berada di wilayah seberang dan bantaran sungai yang memiliki masalah kesehatan lingkungan.
“Kesehatan lingkungan itu punya hubungan langsung dengan stunting. Jadi perbaikan sanitasi dan lingkungan bersih juga harus berjalan bersama,” tandasnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





