Gusar! Alam Dirusak, Pemuda Kaltim Tuntut Keadilan Lingkungan

Usamah Ahmad Syahid.

Selasa, 27 Mei 2025, “Sudah cukup!” seruan itu menggema dari hati rakyat Kalimantan Timur (Kaltim), sebagai bentuk kekecewaan dan kepedulian yang mendalam terhadap kerusakan lingkungan yang tak kunjung usai.

Rakyat menuntut keadilan ekologis dan menolak eksploitasi yang menindas alam serta kehidupan mereka.

Hal itulah yang terlintas dibenak Usamah Ahmad Syahid, seorang pemuda Kaltim. Dia mengungkapkan kesedihannya melihat kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan.

“Sudah terlalu lama. Sungai tercemar, udara penuh debu tambang, hutan habis dimana-mana, sementara segelintir elit bersulang di atas derita rakyat,” ujar pria yang akrab disapa Sahabat Usamah itu.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh industri ekstraktif kata Usamah, dan pembangunan yang tak terkendali telah merenggut kualitas hidup warga dan mengancam masa depan generasi mendatang.

Realitas pahit ini ditegaskannya, bukan hanya statistik, tetapi luka nyata yang dirasakan oleh masyarakat.

Usamah menyerukan tiga tuntutan utama kepada siapapun stakeholder yang bertanggung jawab :
1. Penghentian segala bentuk perusakan lingkungan.
2. Tanggung jawab dari pihak-pihak yang selama ini hanya mengejar untung tanpa memikirkan dampak.
3. Kolaborasi nyata antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjaga “Bumi Etam” secara berkelanjutan.

“Hidup selaras dengan alam, atau alam akan murka” adalah sebuah peringatan keras dari pria asli Kaltim yang tak ingin menyerah.

Sebab ini bukan sekadar isu lingkungan, baginya, ini adalah soal hak hidup, soal harga diri bagi warga dari daerah yang dijuluki Benua Etam.

Mari bergotong royong, saling menjaga, dan mencintai tanah yang kita pijak.

Keresahannya pun ia tuangkan dalam seuntai puisi pemantik api perlawanan berjudul “Rakyat Menggugat, Alam Menjawab”.

Sudah cukup!
Rakyat tak bisa lagi diam,
Bumi digerus, langit menghitam
atas nama tambang dan kekuasaan semu.

Oknum elit bersulang di atas derita,
Menikmati hasil, mewariskan luka.
Sementara rakyat kecil,
menghirup debu, meneguk racun,
melihat sungai tak lagi bening,
dan hutan tinggal kenangan.

Kini saatnya bersuara lantang,
tanpa terkecuali, tanpa takut bayang.
Karena hidup harus selaras dengan alam,
atau alam akan meluluhlantakkan segalanya
tanpa ampun, tanpa pesan.

Karya : Usamah Ahmad Syahid. (*)

 

Tag Berita

Bagikan

Komentar