Harapan Baru Penanganan HIV Kaltim, Dinkes Beberkan Efektivitas ART dan Bocoran Kehadiran Vaksin

Jaya Mualimin, Kepala Dinkes Kaltim

Ujarku.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) membawa kabar optimistis terkait perkembangan penanganan medis bagi penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV). Di tengah sorotan publik mengenai fluktuasi temuan kasus baru di lapangan, Dinkes Kaltim menegaskan inovasi pengobatan saat ini telah bertransformasi secara radikal dalam meningkatkan harapan hidup penderita sekaligus memutus mata rantai penularan di masyarakat.

Langkah pencarian kasus secara agresif kini tengah digencarkan di seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim tidak bergerak sendiri, melainkan membangun kolaborasi terpadu bersama jejaring lembaga pemerhati kesehatan dan organisasi filantropi, mulai dari Panabulu, Yayasan Mahaka, Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), hingga sokongan pendanaan internasional dari Global Fund.

Jaya Mualimin, Kepala Dinkes Kaltim menerangkan masifnya gerakan screening di lapangan sengaja dipacu untuk membongkar fenomena gunung es. Target utamanya adalah memastikan seluruh masyarakat yang masuk dalam kelompok risiko tinggi dapat segera terdeteksi dan langsung masuk dalam sistem perawatan medis tanpa penundaan.

“Perlu saya sampaikan juga, sekarang HIV ini apalagi sebentar lagi ada vaksin untuk HIV. Obat-obatannya sekarang yang diberikan yang mana ART, itu bisa menurunkan jumlah virus di dalam darah itu bisa minimal atau bahkan tidak ada. Dan meningkatkan daya imunitas bagi para penderita sehingga kalau yang sudah divonis ODHIV itu bisa bertahan sama seperti orang normal, sehat. Jangan sampai dari ODHIV menjadi ODHA,” ujar Jaya Mualimin, Senin (29/6/2026).

Jaya Mualimin menjelaskan intervensi melalui terapi Antiretroviral (ART) menjadi kunci utama dalam membalikkan keadaan. Dengan tingkat kepatuhan konsumsi obat yang disiplin, virus di dalam tubuh Orang Dengan HIV (ODHIV) dapat ditekan hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi di laboratorium, sehingga meminimalkan risiko kerusakan sistem kekebalan tubuh penderita menjadi Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Selain memaparkan kemajuan penatalaksanaan klinis, Dinkes Kaltim menaruh perhatian serius terhadap aspek psikososial penderita. Stigma negatif dan tindakan diskriminasi di ruang publik, lingkungan keluarga, maupun dunia kerja dinilai masih menjadi barikade terbesar yang membuat kelompok risiko enggan membuka diri untuk memeriksakan kesehatannya.

Jaya Mualimin meminta masyarakat luas untuk meluruskan persepsi dan memahami karakteristik biologis dari virus ini. Berdasarkan tinjauan epidemiologi, penularan virus tidak terjadi melalui interaksi sosial harian seperti berjabat tangan, berbagi alat makan, atau menggunakan fasilitas umum bersama, sehingga tidak ada alasan medis untuk mengucilkan penderita.

“Jalur penularan HIV itu sebenarnya jauh lebih sulit dibandingkan penyakit menular lainnya seperti Tuberkulosis yang menyebar lewat udara, atau Covid-19 yang penularannya sangat cepat saat terjadi kontak fisik langsung. Kalau HIV sulit, kecuali pada pasangan yang selalu berhubungan badan atau fisik,” lanjut Jaya Mualimin.

Melalui edukasi yang berbasis fakta ilmiah ini, Dinkes Kaltim berharap masyarakat dapat memilah informasi secara bijak dan tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak berdasar. Proteksi terbaik bagi kelompok masyarakat yang sehat adalah dengan memperkuat pemahaman mengenai faktor risiko perilaku, bukan dengan menjauhi penderita secara sosial.

“Jika kedua belah pihak kita proteksi dengan pengobatan, kemudian didukung komitmen untuk saling setia kepada pasangannya dan tidak berganti-ganti, maka mata rantai penularan itu tidak akan ke mana-mana. Maka mudah-mudahan paparan karena infeksi HIV ini tidak terjadi lagi di lingkungan masyarakat kita,” pungkas Jaya Mualimin.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar