Ujarku.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai memasang kuda-kuda menghadapi ancaman inflasi menyusul lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang kini mulai memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. Guna menjaga daya beli masyarakat tetap stabil, jajaran otoritas kota kini tengah menggodok strategi intervensi untuk memutus rantai efek domino yang dipicu oleh membengkaknya biaya distribusi pangan.
Langkah responsif ini diambil setelah pergerakan harga di tingkat pedagang mulai merangkak naik secara perlahan pasca-penyesuaian harga energi.
Neneng Chamelia Shanti, Sekretaris Kota (Sekkot) Samarinda, mengonfirmasi pihaknya telah mengumpulkan sejumlah organisasi perangkat daerah guna memetakan dampak ekonomi yang timbul di tengah masyarakat.
“Kita harus bergerak cepat melakukan antisipasi karena tren kenaikan harga pangan sudah mulai terasa di lapangan. Lonjakan biaya transportasi logistik akibat penyesuaian harga BBM menjadi faktor utama yang mendorong meroketnya harga-harga kebutuhan pokok,” ujar Neneng, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, pembahasan yang dilakukan saat ini masih dalam tahap pemetaan dampak secara makro. Namun, ia memastikan akan segera menggelar rapat teknis yang lebih mendalam dengan melibatkan Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, hingga Perumda Varia Niaga guna merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
“Baru saja kami bahas langkah globalnya, namun detail teknisnya akan segera menyusul melalui diskusi lintas sektor. Kami menampung seluruh aspirasi, baik dari sisi ketahanan pangan maupun sektor transportasi, untuk memastikan langkah yang kita ambil nanti benar-benar efektif meredam inflasi,” jelas Neneng.
Meskipun gejolak harga mulai nyata, Pemkot sejauh ini masih menunggu validasi data dari instansi terkait mengenai komoditas apa saja yang mengalami lonjakan paling signifikan.
Sinkronisasi data antara Dinas Perdagangan dan statistik inflasi daerah menjadi krusial sebelum pemerintah memutuskan bentuk intervensi pasar yang akan dilakukan.
Sebagaimana diketahui, per 18 April 2026, harga sejumlah jenis BBM nonsubsidi memang mengalami kenaikan drastis. Pertamax Turbo kini menyentuh angka Rp19.400 per liter, disusul Dexlite sebesar Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex yang mencapai Rp23.900 per liter.
Walaupun harga Pertalite dan Solar subsidi masih bertahan, kenaikan harga bahan bakar mesin diesel industri tersebut diyakini akan langsung memukul ongkos angkut barang.
Neneng Chamelia Shanti, menegaskan Pemkot Samarinda tidak ingin kecolongan dengan situasi ini. Pengawasan terhadap distribusi pangan dan stabilitas harga akan terus diperketat agar tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya energi tidak semakin memberatkan beban hidup warga Kota Tepian.
“Kami terus memantau pergerakan data inflasi dari Dinas Perdagangan. Intinya, koordinasi ini bertujuan agar semuanya tetap terkendali dan masyarakat tidak menanggung beban yang terlalu berat akibat penyesuaian harga BBM ini,” pungkas Neneng.(*)
Penulis: Devi Mogot





