Ujarku.co – Pagi itu, tepat pukul tujuh, Samarinda masih diselimuti udara lembut yang belum benar-benar panas. Dari Jalan PM Noor, aku mulai perjalanan panjangku menuju Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, sebuah perjalanan yang awalnya kupikir akan memakan waktu 12 jam, tapi ternyata lebih lama. Bukan karena jalanan yang sulit, melainkan karena aku memilih menikmati setiap hembusan angin, setiap detik kebebasan di atas motor NMAX. Aman, nyaman, dan tentu saja penuh cerita.
Dari Samarinda menuju Simpang Tiga Bontang – Sangatta, jalanan masih bersahabat. Cuaca tidak terlalu terik, anginnya sejuk, membuatku merasa seperti sedang menari bersama waktu. Aku, seorang perempuan yang baru pertama kali motoran sejauh ini, tak berhenti tersenyum. Ada deg-degan kecil di dada, tapi lebih banyak rasa senang dan bebas. Kamu pasti tahu, rasa yang membuatmu ingin terus melaju tanpa alasan lain selain “karena ini menyenangkan.”

Tapi perjalanan panjang tak pernah benar-benar mulus. Di pertengahan Sangatta, hujan datang tiba-tiba. Deras sekali. Jas hujan yang sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari langsung kupakai. “Gas terus!” pikirku sambil tertawa sendiri. Aku hanya berhenti untuk makan dan isi bensin di Sangatta. Sisanya terus kupacu, menikmati bunyi mesin yang berpadu dengan suara rintik hujan.
Namun, jujur saja, sepanjang Sangatta adalah bagian paling menegangkan dari seluruh perjalanan. Jalanannya penuh mobil besar dari perusahaan batubara yang melaju cepat tanpa ampun. Aku banyak berdoa di sana, mungkin paling banyak selama hidupku! Rasanya ngeri tapi juga membuatku sadar betapa kuatnya diri sendiri. Dari Sangatta ke Bengalon, tantangan lain menunggu: jalanan kering dan berdebu, panas, gersang, dan membuatku benar-benar bersyukur sudah pakai helm full face!

Begitu melewati Bengalon dan terus ke arah Biduk-Biduk, suasana berubah total. Udara mulai terasa asin, tanda laut sudah dekat. Rumah-rumah warga berdiri di pinggir jalan, sebagian menghadap langsung ke pantai. Pohon kelapa menari pelan dihembus angin sore, anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki di jalanan tanah, dan aroma laut terasa lembut di udara. Suasana pedesaan Biduk-Biduk ini benar-benar seperti pelukan hangat setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Aku akhirnya tiba di pelabuhan kecil tempat perahu kelotok menunggu untuk menyeberang ke Labuan Cermin. Ongkosnya Rp200.000 untuk pulang-pergi, tapi karena aku datang bersama empat teman, biaya itu jadi ringan. Di atas kelotok, aku terdiam sejenak, menatap laut yang berwarna tosca dengan pantulan cahaya matahari.

Dan begitu tiba di Labuan Cermin semua lelah itu seketika lenyap. Airnya jernih seperti kaca, begitu bening hingga kamu bisa melihat dasar danau. Warna airnya unik: di bagian atas tawar dan di bagian bawah asin, karena danau ini terhubung langsung dengan laut lewat celah bawah tanah. Itulah sebabnya Labuan Cermin dijuluki “danau dua rasa.”
Sebagai seseorang yang gemar berenang, aku tentu tak bisa hanya duduk diam memandangi keindahan ini. Begitu perahu merapat, aku langsung jadi “hantu air” byurrr! Airnya segar luar biasa, seperti menyapa kulit dengan cara yang tak bisa dijelaskan kata-kata. Aku tertawa, berenang, menyelam, lalu tertawa lagi. Rasanya seperti menjadi anak kecil yang baru mengenal dunia. Tak ada rasa takut, hanya kebahagiaan sederhana yang tulus.

Di sela-sela bermain air, aku sempat berpikir, betapa beruntungnya kita yang tinggal di Kalimantan Timur, punya surga seindah ini. Labuan Cermin bukan hanya tentang air yang jernih, tapi juga tentang perasaan damai yang menenangkan hati.
Sebelum pulang, aku tentu tak lupa berfoto-foto. Senyumku lebar, rambut basah, tapi hati penuh syukur. Labuan Cermin benar-benar cantik, dan perjalanan panjang ini sepadan dengan setiap detiknya. Aku sampai lupa aku sudah melewati jalanan yang jelek, debu gersang dan mobil mobil besar dari perusahaan batubara yang ugal-ugalan.
Kalau kamu orang Kaltim, kamu harus datang ke sini setidaknya sekali seumur hidup.
Sampai jumpa di perhentian berikutnya, Pulau Kaniungan Besar menanti!(*)
Penulis: Devi Mogot


