Banner Ujarku

Kaltim Hadapi Tantangan Berat Cetak Sawah Baru, Baru Capai 1.890 Hektare untuk 2025

Inti Pertiwi, Penanggung Jawab Swasembada Kaltim

Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi tantangan besar dalam upaya mencetak sawah baru guna mengejar target swasembada beras. Hingga pertengahan tahun 2025, lahan yang berhasil teridentifikasi untuk cetak sawah baru baru mencapai 1.890 hektare.

Inti Pertiwi, Penanggung Jawab Program Swasembada Beras Kaltim, mengatakan proses pencetakan sawah di Kaltim tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena keterbatasan lahan serta banyaknya kawasan yang masuk dalam wilayah hutan lindung maupun cagar alam.

“Cetak sawah ini harus dilakukan hati-hati, tidak bisa serta-merta memilih lahan. Kita harus pastikan lahannya tidak termasuk kawasan lindung. Dari hasil identifikasi, baru ada 1.890 hektare yang siap dicetak untuk tahun 2025,” ujar Inti, Kamis (15/5/2025).

Pemerintah telah menyiapkan anggaran untuk kegiatan survei, investigasi, dan desain (SID) terhadap lahan tersebut. Langkah ini merupakan tahap awal untuk memastikan kesesuaian lahan dengan kriteria teknis pertanian yang ditetapkan.

Inti menjelaskan, kebutuhan beras Kaltim yang belum terpenuhi mencapai 200 ribu ton per tahun. Untuk menutup defisit ini, dibutuhkan sekitar 400 ribu ton gabah kering panen setiap tahunnya.

“Kalau dikonversi, 400.000 ton gabah itu butuh sekitar 100.000 hektare sawah satu kali tanam,” katanya.

Namun, karena tidak semua lahan bisa ditanam tiga kali dalam setahun, Inti menyebut minimal diperlukan sekitar 50 ribu hektare sawah produktif secara berkelanjutan agar Kaltim bisa mencapai target swasembada. Saat ini, sebagian besar kebutuhan beras Kaltim masih dipenuhi dari daerah lain seperti Sulawesi dan Kalimantan Selatan.

“Distribusi dari luar daerah memang cukup lancar. Tapi sekarang kita ingin 200.000 ton itu dipenuhi dari dalam daerah sendiri. Itulah kenapa cetak sawah jadi krusial,” tambahnya.

Lahan dengan potensi optimalisasi terbesar saat ini berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), meski sempat terkendala karena sebagian wilayah masuk cagar alam.

“Dari yang semula 6.000 hektare, akhirnya tinggal sekitar 5.000 hektare saja,” jelas Inti.

Sebagai solusi, sebagian lokasi cetak sawah dialihkan ke Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kutai Kartanegara (Kukar), Berau, dan Samarinda. Kutim dan Kukar disebut memiliki cadangan lahan yang cukup luas dan potensial untuk ditanami padi secara intensif.

Sementara untuk wilayah Mahakam Ulu dan Kutai Barat, pengembangan lebih difokuskan pada padi lahan kering atau padi gogo, yang hanya bisa ditanam sekali setahun pada bulan September dan Oktober.

“Kalau di tempat lain bisa kita tingkatkan frekuensi tanam, di sana hanya sekali. Tapi kapasitasnya tetap seribuan hektare lebih,” tutupnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar