Kasus Kebakaran di Samarinda Menurun, Disdamkar Fokus pada Pencegahan dan Edukasi

Hendra AH, Kepala Disdamkar Samarinda

Ujarku.co – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Samarinda mencatat adanya penurunan jumlah kasus kebakaran di tahun 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Hendra AH, Kepala Disdamkar Samarinda, salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan ini adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan kebakaran serta curah hujan yang cukup tinggi di beberapa bulan terakhir.

“Dibandingkan tahun lalu, kasus kebakaran di Samarinda tahun ini lebih landai. Selain karena curah hujan masih cukup tinggi, kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran juga meningkat berkat pelatihan-pelatihan yang kami jalankan melalui program Pak Wali Kota,”ujar Hendra beberapa waktu lalu.

Hendra menjelaskan pihaknya secara rutin mengadakan pelatihan penanganan kebakaran bagi masyarakat. Selain itu, banyak warga yang sudah mulai melengkapi rumah mereka dengan alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi dini terhadap kebakaran.

“Masyarakat kini lebih sadar. Banyak rumah penduduk yang sudah memiliki APAR untuk penanganan awal kebakaran. Langkah ini sangat membantu mengurangi risiko kebakaran besar,” tambahnya.

Meski demikian, Disdamkar tetap memantau 70 titik rawan kebakaran di Samarinda. Mayoritas kawasan rawan tersebut berada di pemukiman padat penduduk dengan kondisi rumah berbahan kayu dan akses jalan yang sempit. Kelurahan Sidomulyo dan Karang Asam Ilir menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian khusus karena kepadatan dan potensi kebakaran yang cukup tinggi.

Terkait infrastruktur pendukung pemadaman, Hendra menyampaikan Disdamkar terus berupaya menambah jumlah hidran di wilayah rawan kebakaran. Namun, keterbatasan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam merealisasikan program ini. Saat ini, prioritas pemasangan hidran difokuskan di area dengan potensi kebakaran tinggi.

“Hidran ini sebenarnya milik Pemerintah Kota, bukan PDAM. Kami selalu mengusulkan penambahan hidran setiap tahun, tetapi karena anggaran terbatas, prioritas utama kami adalah memasangnya di daerah rawan kebakaran,” jelasnya.

Selain memantau kawasan permukiman, Disdamkar Samarinda juga rutin melakukan inspeksi di objek-objek vital seperti Pertamina, pom bensin, hotel, dan pusat perbelanjaan besar. Hendra menegaskan pihaknya bekerja sama dengan Pertamina untuk memeriksa kelengkapan fasilitas pencegahan kebakaran dan memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar lokasi tersebut.

“Kami melakukan inspeksi rutin di objek vital, termasuk Pertamina. Mereka sudah dilengkapi sistem pengaman seperti alarm dan water wall yang dapat mencegah api menyebar dari atau ke area sekitar,” terang Hendra.

Hendra juga menyoroti faktor utama penyebab kebakaran di Samarinda. Berdasarkan data Disdamkar, lebih dari 50 persen kasus kebakaran diakibatkan oleh hubungan arus pendek listrik (korsleting). Banyaknya kabel listrik yang menumpuk dan instalasi listrik yang tidak sesuai standar menjadi penyebab utama kebakaran di pemukiman warga.

“Penyebab kebakaran terbanyak di Samarinda berasal dari korsleting listrik. Banyak masyarakat yang tidak pernah memeriksa ulang instalasi listrik rumah mereka. Beban listrik yang melebihi kapasitas, seperti penggunaan AC dan dispenser, sering kali memicu kebakaran,” jelasnya.

Melalui berbagai program edukasi, sosialisasi, dan inspeksi rutin, Disdamkar Samarinda berkomitmen untuk terus mengurangi angka kebakaran di masa mendatang. Masyarakat diimbau untuk secara rutin memeriksa instalasi listrik dan melengkapi rumah dengan APAR sebagai langkah pencegahan dini.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar