Kasus Tongkang Tabrak Pilar Jembatan Terus Berulang, Pemprov Kaltim Siapkan Mitigasi Menyeluruh

Rusaknya pilar Jembatan Mahulu Samarinda usai ditabarak kapal tongkang pengangkut batubaru

Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menyiapkan langkah mitigasi menyeluruh menyusul maraknya insiden kapal tongkang pengangkut batubara yang menabrak pilar jembatan di Samarinda sepanjang 2025 hingga awal 2026. Rentetan kejadian tersebut dinilai mengancam keselamatan publik serta aset negara dan daerah.

Rudy Mas’ud, Gubernur Kaltim mengatakan, kecelakaan yang melibatkan jembatan dan aset publik di Sungai Mahakam terjadi berulang kali dan memerlukan penanganan serius serta sistematis.

“Kita harus segera melakukan mitigasi semuanya. Kami rembuk bersama-sama untuk memperbaiki tata kelola alur pelayaran di bawah jembatan Mahakam, baik Jembatan Mahulu, Jembatan Mahkota, Jembatan Kutai Kartanegara, maupun Jembatan Kembar (Jembatan Mahakam),” ujar Rudy usai rapat terpadu alur Sungai Mahakam, di Kantor Gubernur Kaltim, Senin sore (5/1/2026).

Selain pembenahan tata kelola alur pelayaran, Pemprov Kaltim juga akan meningkatkan sarana dan prasarana pendukung agar sesuai dengan standar internasional keselamatan dan keamanan pelayaran, khususnya di area bawah jembatan. Hal ini dinilai penting karena jembatan digunakan masyarakat setiap hari sebagai akses transportasi utama.

“Di atas jembatan ada manusia yang melintas. Maka keselamatan dan keamanan masyarakat yang menggunakan akses jembatan di Sungai Mahakam ini wajib kita jaga,” tegasnya.

Rudy Mas’ud, Gubernur Kaltim

Rudy Mas’ud juga menekankan pentingnya pengaturan kapal-kapal yang bertambat di Sungai Mahakam, mulai dari hulu hingga hilir, baik kapal bermuatan maupun kapal kosong. Penataan tersebut dinilai krusial untuk mencegah gangguan alur pelayaran yang berpotensi memicu kecelakaan.

Terkait peran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda dalam pemantauan aktivitas pelayaran, Rudy Mas’ud menyebut pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya manusia. Menurutnya, pelayaran di Sungai Mahakam harus dikelola dengan prinsip bersahabat dengan alam.

“Kegiatan pemanduan sebenarnya sudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi alam. Saat air pasang, kapal bermuatan turun. Saat air surut, kapal kosong naik. Itu bagian dari tidak melawan alam,” jelasnya.

Namun demikian, ia menegaskan pemanfaatan teknologi menjadi keharusan. Rudy menyatakan seluruh jembatan di Sungai Mahakam wajib dipasangi kamera pengawas (CCTV) serta dilengkapi penerangan yang memadai untuk meningkatkan keselamatan pelayaran dan mencegah insiden serupa terulang.

“Teknologi harus kita gunakan. CCTV dan penerangan wajib ada supaya tidak terjadi insiden yang membahayakan keselamatan masyarakat maupun warga yang tinggal di pesisir Sungai Mahakam,” pungkasnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar