Ujarku.co – Angka konsumsi ikan (AKI) di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan peningkatan pada 2024, mencapai 59,75 kilogram per kapita per tahun. Namun, capaian tersebut dinilai masih menghadapi tantangan pemerataan konsumsi antarwilayah serta kaitannya dengan upaya penurunan stunting.
Irma Listiawati, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan DKP Kaltim, menjelaskan kenaikan konsumsi ikan ini menandakan program pemerintah berjalan efektif meski tidak melonjak signifikan.
“Angka konsumsi ikan tahun ini meningkat, walau peningkatannya tidak terlalu tinggi. Dari data tahun sebelumnya sekitar 58 kg, sekarang naik menjadi 59,75 kg per kapita per tahun. Ini menunjukkan program dan edukasi yang diberikan kepada masyarakat disambut baik,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Berdasarkan data DKP Kaltim, terdapat disparitas konsumsi antar kabupaten/kota. Kutai Kartanegara mencatat angka tertinggi dengan 67,14 kg per kapita per tahun, disusul Kutai Barat 65,73 kg, dan Berau 62,08 kg. Sementara Mahakam Ulu menjadi daerah dengan angka terendah, hanya 52,82 kg per kapita per tahun.
Kesenjangan ini menunjukkan meski program Gemar Makan Ikan (Gemarikan) telah berjalan, akses masyarakat terhadap ikan masih bergantung pada kondisi geografis, daya beli, dan ketersediaan pasokan di masing-masing daerah. Tantangan ini menjadi pekerjaan rumah bagi DKP untuk memastikan pemerataan konsumsi di seluruh wilayah.
Irma menyebutkan, salah satu fokus utama program Gemarikan adalah mencegah stunting pada balita. Edukasi gizi dilakukan dengan melibatkan Dinas Kesehatan, Posyandu, dan BKKBN.
“Program ini sasarannya adalah balita. Kami melakukan edukasi di lokasi-lokasi yang berpotensi terjadi stunting,” jelasnya.
Selain edukasi, pemantauan langsung dilakukan terhadap perkembangan balita, termasuk berat badan dan lingkar kepala. Hasilnya menunjukkan perbaikan positif.
“Alhamdulillah, untuk balita yang kami pantau di Bontang dan Kutai Timur, berat badannya naik dan lingkar kepalanya bagus,” ungkap Irma.
Tak hanya menyasar balita, DKP Kaltim juga memperluas program ke anak-anak sekolah dasar. Pemberian makanan tambahan berbahan dasar ikan dilakukan di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara. Langkah ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan konsumsi ikan sejak dini.
Menurut Irma, jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Kaltim adalah ikan gembung dan tongkol. Kedua jenis ini dipilih karena mudah dijangkau, kaya protein, dan baik untuk pertumbuhan tulang serta perkembangan otak anak.
Meski begitu, masih ada tantangan untuk meningkatkan konsumsi ikan di daerah dengan angka rendah. Faktor distribusi, preferensi masyarakat, serta daya beli menjadi hambatan yang harus segera diatasi agar target peningkatan konsumsi ikan tercapai secara merata.
“Ikan adalah sumber protein yang sangat penting untuk perkembangan gizi dan pertumbuhan tulang, sehingga sangat bagus untuk dikonsumsi masyarakat,” pungkas Irma.(*)
Penulis: Devi Mogot





