Lilin Besar Merah, Simbol Syukur dan Keseimbangan dalam Perayaan Imlek

Lilin besar merah di Kelenteng Thien Le Kong, Samarinda

Ujarku.co – Dalam setiap perayaan Tahun Baru Imlek, lilin besar berwarna merah selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Cahaya yang menyala terang di altar-altar klenteng bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna mendalam bagi umat yang merayakan. Lilin merah besar adalah simbol pengucapan syukur dan harapan baru dalam menyambut tahun yang akan datang.

Di Kelenteng Thien Le Kong, Samarinda, tradisi menyalakan lilin merah tetap dijaga setiap tahunnya. Hansen, perwakilan Sekretariat Kelenteng, menjelaskan lilin tersebut dinyalakan oleh keluarga yang ingin mengungkapkan rasa terima kasih atas tahun yang telah berlalu dan menyambut tahun baru dengan harapan baik.

“Lilin besar ini sebagai simbol pengucapan syukur. Biasanya, keluarga yang mampu akan membeli satu pasang lilin untuk dinyalakan sebagai bentuk penghormatan,” ujarnya.

Penyalaan lilin merah besar dimulai sejak malam Tahun Baru Imlek dan berlangsung hingga perayaan Cap Go Meh, yang menandai hari ke-15 dalam kalender lunar. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di Samarinda, tetapi juga bisa diwakilkan oleh pengurus kelenteng jika keluarga sedang berada di luar kota.

“Jika ada keluarga yang tidak bisa hadir, mereka dapat mempercayakan kepada pihak klenteng untuk menyalakan lilin atas nama mereka,” tambah Hansen.

Salah satu aspek penting dalam tradisi ini adalah bahwa lilin harus selalu dinyalakan dalam bentuk sepasang. Filosofi dibaliknya berkaitan erat dengan konsep keseimbangan dalam ajaran Tionghoa.

“Kenapa lilinnya harus sepasang? Karena melambangkan keseimbangan, seperti yin dan yang, siang dan malam. Hidup itu harus seimbang, jangan berlebihan dalam segala hal,” jelas Hansen.

Lilin merah besar juga dipercaya membawa keberuntungan dan melambangkan energi positif. Warna merah sendiri dalam budaya Tionghoa sering dikaitkan dengan kebahagiaan, keberuntungan, serta perlindungan dari hal-hal negatif. Cahaya lilin yang terus menyala di klenteng dianggap sebagai doa agar keberkahan dan keselamatan senantiasa menyertai keluarga yang menjalankannya.

Bagi masyarakat Tionghoa, tradisi menyalakan lilin merah bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bentuk refleksi diri. Lilin yang menyala mengajarkan makna kesederhanaan dan keikhlasan dalam berbagi keberkahan dengan sesama. Hansen menambahkan Imlek bukan hanya tentang perayaan meriah, tetapi juga momen untuk bersyukur atas segala pencapaian dan berdoa untuk masa depan yang lebih baik.

Di tengah modernisasi, banyak tradisi yang mulai ditinggalkan, tetapi penyalaan lilin merah tetap menjadi bagian penting dalam perayaan Imlek. Hansen berharap bahwa generasi muda tetap memahami makna dari setiap ritual yang dilakukan.

“Tradisi ini sudah ada sejak lama, dan harapannya tetap dilestarikan. Bukan sekadar menyalakan lilin, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Dengan segala makna filosofis yang terkandung, lilin besar merah bukan sekadar dekorasi dalam perayaan Imlek. Ia menjadi simbol harapan, keseimbangan, dan pengingat bahwa dalam hidup, rasa syukur dan keharmonisan harus selalu dijaga. Seiring lilin yang menyala terang di klenteng, semoga tahun baru membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar