Ujarku.co – Lina, seorang perempuan penyandang disabilitas kelahiran 11 Februari 1995 di Kota Bangun Seberang, Kalimantan Timur (Kaltim), tak pernah menyangka dirinya akan berlabuh sebagai seorang atlet angkat berat.
Perjalanannya dimulai bukan dari mimpi besar atau ambisi tinggi. Ia mengawali karirnya di dunia olahraga pada tahun 2013, secara kebetulan saat mengikuti pelatihan salon di LBK Tenggarong. Di sana, Lina bertemu seorang teman yang juga seorang atlet. Dari pertemuan itulah jalan hidupnya mulai berubah.
Seperti kata pepatah, takdir sering kali menemukan jalannya dengan cara yang tak terduga. Begitu pula dengan Lina, yang tak pernah membayangkan dirinya akan terjun ke dunia olahraga, apalagi menjadi atlet angkat berat.
Meski tak pernah merencanakan, Lina tak dapat menolak ketertarikan yang mulai tumbuh. Tubuhnya yang dinilai sesuai untuk cabang olahraga angkat berat oleh pelatihnya, menjadi dorongan awal untuk mencoba sesuatu yang baru.
“Awalnya hanya coba-coba,” ujarnya sambil tersenyum, mengingat langkah pertamanya di bidang yang kini mengubah hidupnya.
Lina bukanlah satu-satunya atlet di keluarganya. Dalam keluarga kecilnya, olahraga, terutama angkat berat, adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Suaminya, Muhammad Syamsudin, yang juga seorang penyandang disabilitas akibat kecelakaan, dan anak pertama mereka, Muhammad Syarifudin, yang kini berusia 20 tahun, juga merupakan atlet angkat berat.
Lina dan keluarganya, meski menghadapi keterbatasan fisik, telah menunjukkan semangat dan tekad bisa melampaui segala rintangan.
“Kami sekeluarga memang penyandang disabilitas, tapi itu tidak menghalangi kami untuk berprestasi,” ungkap Lina dengan penuh kebanggaan.
Takdir seolah semakin mengukuhkan Lina di jalur ini. Setelah melewati berbagai pelatihan dan kompetisi, ia akhirnya menetap di Asrama Atlet Tenggarong, tempat yang kini menjadi rumah keduanya.
Di sini, Lina berlatih setiap hari, mempersiapkan diri untuk berbagai ajang kompetisi yang menantinya. Meski asalnya dari kampung yang jauh dari fasilitas latihan memadai, kehidupan di asrama memberinya akses yang lebih baik untuk fokus mengasah kemampuan.
Prestasi terbaru Lina semakin mengukuhkan namanya di dunia angkat berat. Di ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2024 di Solo, Lina berhasil membawa pulang medali emas dan perak, sebuah pencapaian yang tak pernah ia duga sebelumnya.
“Saya main di kelas 45 kg, padahal awalnya saya di kelas 50 kg. Pelatih menurunkan saya ke kelas ini, dan saya juga tidak menyangka bisa menang, apalagi saingan saya dari Bali,” tuturnya.
Di balik prestasinya, Lina mengakui menjadi penyandang disabilitas dalam dunia olahraga tak lepas dari tantangan. Namun, berkat dukungan suami, keluarga, serta para pelatih, ia berhasil mengatasi setiap rintangan yang ada.
“Kami berlatih bersama, mendukung satu sama lain. Meskipun ada kendala, seperti jarak dan fasilitas, tapi tinggal di asrama membuat semuanya lebih mudah,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.
Tak hanya Lina, anak-anaknya juga mengikuti jejak sang ibu di dunia olahraga. Putranya, Muhammad Syarifudin, yang telah berusia 20 tahun, sudah menjadi atlet angkat berat, sementara putrinya yang masih berusia 5 tahun, Maisya Shakila, masih dalam masa pertumbuhan.
Keluarga kecil ini, meskipun menghadapi keterbatasan fisik sejak lahir, terus membuktikan dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, mereka mampu menorehkan prestasi gemilang di arena nasional.
Lina adalah bukti nyata tak ada batasan bagi siapa pun yang berani bermimpi dan berjuang. Dari Kota Bangun yang kecil, ia kini berdiri tegak di atas podium emas, menginspirasi tak hanya para penyandang disabilitas, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.(*)
Penulis: Devi Mogot





