Mengenang Kembali Sosok Aji Muhammad Idris, Pahlawan Nasional dan Sultan Kutai Pertama Gunakan Nama Islam

Redaksi Ujarku.co

Ujarku.co – Pada peringatan hari pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto, mengumumkan pengangkatan sejumlah nama tokoh sebagai pahlawan nasional. Salah satunya Presiden Kedua RI, Soeharto.

Berikut daftarnya:
1. Abdurrahman Wahid
2. Soeharto
3. Marsinah
4. Mochtar Kusumaatmadja
5. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah
6. Sarwo Edhie
7. Sultan Muhammad Salahuddin
8. Syaikhona Muhammad Sholil
9. Tuan Rondahaim Saragih
10. Zainal Abidin Syah

Redaksi Ujarku.co mencoba mengenang kembali sosok Aji Muhammad Idris, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sosok tokoh asal Kaltim pertama yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Aji Muhammad Idris ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo, pada tahun 2021 silam.

Selain itu diketahui, Sultan Aji Muhammad Idris merupakan raja pertama Kutai Kartanegara yang menggunakan nama Islam sejak masuknya agama Islam di Bumi Mulawarman.

Aji Muhammad Idris lahir di daerah Jembayan, pada kisaran tahun 1667 masehi. Ia lalu diangkat menjadi Sultan Kutai Kartanegara pada tahun 1735.

Sosok Sultan Kutai ke-14 ini dikenal piawai di medan tempur juga papan perpolitikan Nusantara di kala itu.

Namanya semakin melesat kala mempersunting cucu dari La Maddukelleng, pembesar dan bangsawan Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan, di tahun 1732 masehi.

Dengan perkawinan dua kerjaan besar ini, Kesultanan Kutai Kartanegara otomatis menancapkan posisinya di panggung Nusantara.

Sultan Aji Muhammad Idris membawa rombongan pasukan, bergabung bersama La Madukkelleng di Wajo untuk turun berperang melawan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).

Kisaran tahun 1736 hingga 1737, meletuslah pertempuran, setelah Sultan Aji Muhammad Idris bersama pasukannya menyerang benteng VOC di Makassar, termasuk Fort Rotterdam.

Perlawan Suldan Idris dan La Madukkelleng paling terkenal adalah ketika keduanya berhasil mempertahankan Ibu Kota Wajo, berhasil merebut Palakka, hingga Sidenreng dan Soppeng.

Serangan militer dua punggawa itu berlanjut hingga Fort Rotterdam di Makassar.

Imbas dari pertempuran itu, Sultan Idris mangkat sekira tahun 1739 di Wajo, Sulawesi Selatan.

“Beliau sultan yang berani meninggalkan kekuasaan untuk melawan penjajahan,” kata Raden Cokro Projo, Wakil Menteri Adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Terdapat beberapa versi mengenai penyebab pasti kematian Aji Muhammad Idris di Wajo.

Pada salah satu versi menyebutkan Sultan Idris gugur sebagai syuhada di medan perang saat bertempur langsung melawan VOC.

Versi lain, ia wafat saat mendapatkan perawatan akivat luka parah yang diderita usai perperangan.

Versi lainnya menyebut Aji Muhammad Idris wafat ketika menunggangi kuda bersama pasukannya saat menuju Sidenreng. Disebutkan bahwa kuda Sultan Idris jatuh dalam jebakan musuh.

Sultan Aji Muhammad Idris lalu dimakamkan di Kabupaten Wajo.

Atas perjuangannya Masyarakat Wajo menggelari Sultan Aji Muhammad Idris sebagai La Darise Denna Parewosi Petta Arung Kutek Petta Matinroe ri Kawane, yang berarti “Idris, kakak Parewosi, tuan kita, Sultan Kutai yang beradu tidur di Kawane.”

Lewat aliansi politik dan militer Kutai dan Wajo, bukti nyata pengaruh Aji Muhammad Idris dalam kancah perjuangan melawan penjajah.

“Ia juga dikenal sebagai pemikir besar yang menyatukan hukum Beraja Niti dan Panji Selatan,” tegas Raden Cokro Projo.

Saatnya kita menetik pelajaran dari jalan hidup Sultan Aji Muhammad Idris, meninggalkan kerajaannya untuk berjuang melawan penjajah di lintas daerah.

Kisah Sultan Idris bukan hanya perjuangan dan perperangan, tapi juga nilai luhur menjaga martabat bangsa. (*)

Tag Berita

Bagikan

Komentar