Ujarku.co – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) akan membangun 24 embung dan kolam retensi di IKN, guna memastikan ketersediaan air bersih.
Otorita IKN bahkan telah meneken kontrak kerja sama pembangunan embung di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) 1B dan 1C serta kolam retensi bersama sejumlah penyedia jasa, seperti PT Bumi Karsa, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Nindya Karya.
Otorita IKN berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur air sebagai bagian dari fondasi dasar sebuah ibu kota yang aman, tangguh, dan berketahanan iklim.
Basuki Hadimuljono, Kepala Otorita IKN, mengatakan pembangunan embung dan kolam retensi ini bagian dari percepatan pembangunan Nusantara.
“Ini menandakan pembangunan IKN memang terus berjalan dan akan kita selesaikan dalam waktu yang tidak banyak, sebelum tahun 2028. Kita akan membangun 24 badan air dengan total kapasitas 2 juta meter kubik, menambahi 2 juta meter kubik yang sudah kita punyai dari 30 embung yang sudah ada,” kata Basuki Hadimuljono.
Pembangunan embung dan kolam retensi ini memiliki fungsi strategis dalam menopang konsep Zero Delta Q atau Sponge City yang diusung Nusantara.
Infrastruktur ini dirancang untuk menahan, menyerap, dan mengendalikan aliran air permukaan sehingga mengurangi risiko limpasan air yang berlebihan dan menjaga keseimbangan hidrologis kawasan.
Dengan mekanisme tersebut, pembangunan ini turut mendukung sistem konservasi air yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan lingkungan terhadap perubahan iklim.
Selain fungsi konservasi, keberadaan badan-badan air ini juga memberikan nilai tambah terhadap estetika dan kualitas ruang di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan.
Embung dan kolam retensi berperan memperindah lanskap kota, menciptakan ruang terbuka hijau yang memperkaya karakter Nusantara sebagai ibu kota yang hijau, teduh, dan berorientasi pada harmoni antara pembangunan modern dan keberlanjutan alam.
“Ruang-ruang ini nantinya juga menjadi lokasi interaksi sosial, rekreasi publik, dan ruang komunal yang mendukung kualitas hidup masyarakat,” jelasnya.
Manfaat lainnya, tersedianya cadangan air baku sekunder yang dapat digunakan untuk penyiraman taman, kebutuhan insidental seperti pemadaman kebakaran, hingga menurunkan suhu udara di sekitar kawasan.
“Dengan fungsi pengendalian banjir skala mikro maupun makro, keberadaan embung dan kolam retensi ini menjadi bagian penting dalam membangun infrastruktur dasar Nusantara yang aman, resilien, adaptif serta berkelanjutan,” tegasnya. (*)
Editor: Er Riyadi





