Ujarku.co – Muhammad Darham, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Samarinda, mengungkapkan populasi ternak sapi potong di Samarinda saat ini masih belum mencukupi kebutuhan lokal, sehingga sebagian besar daging sapi masih didatangkan dari luar daerah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkot Samarinda berupaya meningkatkan kapasitas peternakan lokal melalui penerapan inseminasi buatan dan perbaikan kualitas ternak.
“Saat ini, populasi sapi potong di Samarinda tidak begitu banyak. Peternak di sini hanya memiliki sekitar 20 ekor sapi, dan selebihnya dikelola dalam bentuk plasma oleh petani-petani kecil. Biasanya mereka hanya berani memelihara dua hingga lima ekor saja karena khawatir risiko kematian yang tinggi,” ujar Darham kepada awak media, Senin (21/10/2024).
Menurut Darham, inseminasi buatan menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan populasi dan kualitas sapi potong di Samarinda. Metode ini dinilai lebih efektif dalam mempercepat pertumbuhan populasi ternak serta meningkatkan kualitas genetik sapi.
“Selain meningkatkan populasi, inseminasi buatan juga penting untuk meningkatkan kualitas sapi dari sisi kesehatan. Kami juga memberikan pelatihan kepada penyuluh untuk menerapkan inseminasi buatan ini di lapangan. Hal ini bertujuan agar peternak dapat memperoleh hasil yang lebih baik dalam waktu singkat,” jelas Darham.
Ia menambahkan, hasil dari inseminasi buatan bisa mulai terlihat dalam waktu tiga bulan, di mana sapi yang baru lahir sudah memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
“Hanya dalam tiga bulan, hasil inseminasi buatan ini bisa bernilai sekitar Rp 8 juta per ekor. Apalagi menjelang hari raya Idul Adha, harganya bisa mencapai Rp 20 juta ke atas,” tambahnya.
Namun, Darham mengakui ketakutan peternak terhadap risiko kematian hewan masih menjadi kendala yang signifikan. Karena itu, Pemkot berupaya untuk terus memberikan pendampingan agar para peternak merasa lebih yakin dalam menjalankan usaha ternak mereka.(*)
Penulis: Devi Mogot





