Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mematangkan rencana pengembangan fasilitas tambat kapal di sepanjang alur Sungai Mahakam sebagai alternatif sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Langkah ini diambil untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah di tengah proyeksi penurunan pendapatan transfer.
Yusliando, Kepala Dinas Perhubungan Kaltim, mengatakan pada tahun anggaran berjalan provinsi diperkirakan mengalami pengurangan dana Transfer ke Daerah (TKD) hingga sekitar Rp6 triliun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menggali potensi ekonomi baru yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Gubernur melihat Sungai Mahakam sebagai aset strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selama ini pengelolaannya berada di bawah kewenangan KSOP dengan melibatkan pihak ketiga seperti Pelindo. Ke depan, daerah juga harus mendapatkan manfaat ekonominya,” ujar Yusliando.
Ia menjelaskan, salah satu opsi yang disiapkan adalah pengelolaan jasa tambat kapal. Skema ini tergolong baru bagi Pemprov Kaltim karena sebelumnya belum pernah dimanfaatkan secara langsung sebagai sumber PAD.
Dishub Kaltim telah menyusun perencanaan pembangunan fasilitas tambat kapal yang direncanakan mulai dilaksanakan secara bertahap pada 2026. Dua lokasi yang menjadi prioritas berada di wilayah Sungai Kunjang dan Sungai Lais, dengan status lahan sepenuhnya milik pemerintah provinsi.

“Kebutuhan anggarannya cukup besar, sehingga pembangunannya tidak bisa sekaligus. Dua lokasi tersebut dipilih karena lahannya merupakan aset Pemprov Kaltim,” katanya.
Dalam pengelolaannya, Pemprov Kaltim berencana menggunakan pola kerja sama business to business (B2B). Pemerintah daerah akan menunjuk Perusahaan Daerah Melati Bhakti Satya (MBS) sebagai mitra kerja sama dengan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
“Penetapan MBS sebagai pengelola jasa tambat masih dalam proses. Target kami paling lambat tahun 2027 sudah ada penunjukan resmi, sementara skema kerja samanya masih dibahas,” jelas Yusliando.
Sementara itu, perencana teknis proyek, Ahmad Maslihuddin, menyampaikan bahwa pada tahap awal fasilitas tambat di dua titik tersebut dirancang memiliki kapasitas besar. Di kawasan Sungai Kunjang direncanakan pembangunan enam dolphin, sedangkan di Sungai Lais sekitar 10 dolphin.
“Setiap dolphin bisa menampung kapal hingga tiga lapis dengan sistem rafting, sehingga daya tampungnya cukup signifikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini proyek masih berada pada fase perencanaan teknis dan penyesuaian anggaran, sehingga pekerjaan fisik belum dimulai. Pihaknya juga terus melakukan efisiensi desain agar jumlah titik tambat dapat dimaksimalkan.
“Target awalnya 20 titik tambat di dua lokasi. Saat ini desain konstruksi kami sederhanakan agar target itu bisa tercapai. Harapannya, pembangunan selesai pada akhir 2026,” katanya.(*)
Penulis: Devi Mogot





