Ujarku.co
Banyak cara berterima kasih kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan berkah kepada manusia.
Sudah sedari zaman bahari (lampau) ritual untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Esa.
Itu juga yang dilakukan oleh warga Desa Betuah, Kutai Kartanegara.
Warga Betuah menghelat ritual Sedekah Bumi dan Festival Buah Lai.
Festival Buah Lai, sekaligus sedekah bumi digelar di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten untuk berbagi kebahagiaan, juga sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen Buah Lai dan hasil bumi lainnya.
Sebanyak 1.300 Buah Lai diberikan secara gratis kepada masyarakat.
Bagaimana tidak, Desa Betuah, sudah sejak lawas menjadi penghasil Buah Lai terbesar di Bumi Mulawarman.
“Saya berharap pemerintah ke depan berlanjut untuk menjadikan acara yang lebih besar, sehingga Desa Batuah, semakin dikenal banyak orang,” kata Aminah, Warga Desa Batuah.
Rendi Solihin, Wakil Bupati Kukar, mengucap apresiasi atas digelarnya Festival Buah Lai ini.
“Sedekah Lai sebenarnya sama dengan
beberapa festival lainnya yang ada di Kutai Kartanegara, tujuan atau maknanya itu sama sedekah hasil bumi yang ditujukan kepada sang pencipta untuk ungkapan rasa syukur kita terhadap hasil yang dipanen,” kata Rendi.
Rendi berharap kedepannya Buah Lai yang dihasilkan petani lokal menjadi ciri khas Kukar terutama ikon Desa Batuah, karena berhasil mengembangkan salah satu Buah Lai terbaik di Kalimantan Timur.
“Pemerintah daerah punya rencana akan mengadakan festival sedekah bumi lai terbesar yang akan memecahkan rekor MURI. Insya Allah tahun depan,” ucapnya.
Tradisi sedekah bumi sudah dilakukan masyarakat Desa Batuah setiap tahun menjelang panen Buah Lai.
Kepala Desa (Kades) Batuah, Abdul Rasyid menjelaskan, sedekah bumi tahun mengusung konsep yang berbeda, yakni dengan memperkenalkan Sedekah Bumi ini.
Buah Lai dinilai sebagai simbol Kecamatan Loa Janan, dan menjadi salah satu kearifan lokal yang mampu menarik minat wisatawan.
“Kalau durian sering orang adakan, tapi ini kan lai. Kita bentuk menjadi gunungan atau tumpengan, jumlahnya sekitar 1.300 lain. Kemudian disedekahkan, namanya sedekah lai,” ungkap Rasyid.
Ribuan buah berasal dari kebun seluas 10 hektare milik Hj Nani, mempunyai 300 pohon Lai, dan akrab disebut wisata Dewi Belai.
Wisata ini salah satu wilayah yang berpotensi mengembangkan Buah Lai di Kukar.
“Itu murni dari kebun desa wisata semuanya,” lanjutnya.
Berbagai macam kegiatan dirangkai dalam festival ini, ada pekan olahraga dusun, peresmian tribun dan syukuran jalan wisata yang dibangun Pemkab Kukar.
Rasyid menambahkan, Wabup Kukar sempat menyampaikan pesan khusus, di mana Rendi ingin Festival Lai ini bisa masuk rekor muri tahun 2024 mendatang.
“Kalau yang pertama ada 1.300an buah lai, mungkin tahun depan bisa 5.000. Beliau berharap ini dimasukkan (Kalender Event) dan akan dikoordinasikan dengan instansi terkait. Tahun depan pasti lebih meriah, ini perdana,” pungkasnya. (*)
Penulis: SL/Ujarku.co


