Ujarku.co – Jalan penghubung Balikpapan menuju Samarinda (sekarang bernama Jalan Soekarno Hatta) jadi saksi mata betapa dasyatnya pertempuran dua babak Jepang melawan Belanda (Sekutu) di Balikpapan dan Samarinda.
Jalan sepanjang 115 kilometer ini juga punya peran sentral penaklukan Jepang oleh Sekutu (Belanda, Australia, dan Amerika Serikat) di kisaran Bulan Juli hingga Bulan September 1945.
Setelah Perang Dunia II berakhir, kondisi Jalan Soekarno Hatta, masih berupa jalan setapak dengan kontur tanah.
Sebagaimana dijelaskan Hario Kecik lewat bukunya berjudul Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2009).
“Sebagian besar jalan lama itu yang mengikuti ketinggian bukit-bukit, sudah ditumbuhi rumput ilalang. Terdapat bagian yang gundul kerena tanahnya terdiri atas pasir kwarts putih yang tidak mengizinkan tanaman tumbuh di atasnya. Ada bagian-bagian yang melewati tepi-tepi jurang. Hutan lebat menutupi kiri kanan jalan pada banyak tempat,” tulis Hario Kecik (2009).
Pasca Kemerdekaan Nagara Indonesia, akses jalan darat Balikpapan-Samarinda ini akhirnya dibangun dengan serius.
Tahun 1961, proyek jalan raya mulai dikerjakan oleh Uni Soviet. Akses Jmjalan itu diberi nama Jalan Projakal, sebelum akhirnya bernama Jalan Soekarno Hatta.
“Tahun 1961 proyek jalan raya Balikpapan-Samarinda mulai dikerjakan,” Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik II (2001).
Jalan ini dibangun lewat Program Jalan Kalimantan (Projakal) dikerjakan oleh kelompok teknisi ahli konstruksi dari Uni Soviet.
Militer Indonesia dibantu warga turut serta membantu pengerjaan pembangunan Jalan Projakal.
Belum sempat rampung, pembangunan Jalan Projakal terpaksa dihentikan akibat gejolak politik dan keamanan Indonesia di tahun 1965.
Imbas Peristiwa G30S-PKI, kondisi kemanan dan politik Indonesia sedang jungkir balik.
Akibatnya,Jalan Projakal terbengkalai. Para teknisi Uni Soviet dipulangkan ke negara asal akibat identitas ideologi Uni Soviet saat itu.
Setelah ditinggal teknisi Uni Soviet, pekerja pribumi yang terlibat pembangunan Jalan Soekarno Hatta turut terkena dampak.
Menurut Sabran Achmad (dikutip dari Kompas 2009). Para pekerja jalan akses Balikpapan-Samarinda disangkut pautkan dengan Uni Soviet, yang selanjutnya menjurus ke Ideologi Komunis dan PKI.

Orang-orang yang tinggal di sepanjang Loa Janan Ilir pun otomatis tertuduh sebagai PKI. Hidup mereka dipastikan menjerit di awal-awal Orde Baru.
Sempat terbengkalai akibat gejolak politik, Jalan Projakal rampung dibangun pada tahun 1971.
Jalan Balikpapan-Samarinda diresmikan oleh Presiden Soeharto, pada tanggal 20 Juli 1977.

Seperti dicatat dalam buku Kotapraja (1972), proyek yang sempat ditinggalkan teknisi Uni Soviet, akhirnya dilanjutkan oleh teknisi dari Jepang.
Adapun dananya, bersumber dari kredit Pemerintah Jepang sebesar USD 320 ribu. Di kalangan ekspatriat era 1970-an hingga 1980-an, akses jalan ini dikenal sebagai Russian Road, lalu berganti nama menjadi Jalan Soekarno-Hatta hingga saat ini. (*)
Editor: Er Riyadi


