Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menilai stabilitas ekonomi daerah menjadi faktor utama yang menjaga tren penurunan angka kemiskinan sepanjang 2025. Kondisi tersebut dinilai mampu menopang daya beli masyarakat sekaligus mendorong perbaikan kualitas hidup warga.
Seno Aji, Wakil Gubernur Kaltim menyebut, persentase penduduk miskin di Kaltim pada akhir 2025 tercatat sebesar 5,17 persen. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang masih berada di level 5,78 persen, atau setara dengan berkurangnya sekitar 21,6 ribu penduduk dari garis kemiskinan.
“Stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga sepanjang 2025 dan itu berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan, meskipun kita menghadapi berbagai tantangan eksternal,” ujar Seno Aji.
Ia menjelaskan, tekanan pada sektor pertambangan dan penggalian, khususnya akibat melemahnya permintaan batubara, tidak dapat dihindari. Namun, struktur ekonomi Kaltim dinilai cukup adaptif karena tidak bergantung pada satu sektor utama. Hingga triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi daerah tercatat sebesar 4,26 persen.
“Memang ada perlambatan di sektor tambang, tetapi sektor lain seperti konstruksi serta pengadaan listrik dan gas masih bergerak cukup kuat dan menjadi penopang ekonomi daerah,” jelasnya.
Stabilitas ekonomi tersebut turut tercermin pada peningkatan kualitas pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim naik dari 78,79 pada 2024 menjadi 79,39 pada 2025, sekaligus menempatkan Kaltim tetap berada di atas rata-rata nasional.
Menurut Seno, kenaikan IPM tidak hanya mencerminkan capaian statistik, tetapi juga menunjukkan perbaikan bertahap pada akses pendidikan, layanan kesehatan, serta daya beli masyarakat yang sejalan dengan upaya pengurangan kemiskinan.
Di sisi ketenagakerjaan, kondisi pasar kerja dinilai masih terkendali. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kaltim per Agustus 2025 tercatat sebesar 5,18 persen, mencerminkan kemampuan ekonomi daerah dalam menyerap tenaga kerja.
Selain itu, Pemprov juga mencatat inflasi Kaltim hingga Oktober 2025 berada di level 1,94 persen. Menurut Seno Aji, pengendalian inflasi menjadi elemen penting dalam menjaga daya beli masyarakat agar tren penurunan kemiskinan dapat berlanjut.
“Inflasi yang terkendali sangat penting untuk memastikan kesejahteraan masyarakat terus membaik,” pungkasnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





