Talkshow Keuangan Syariah di MTQN ke-30, Soroti Peran Strategis Perekonomian Nasional

Suasana Talkshow Keuangan Sosial Syariah di MTQN ke-30

Ujarku.co – Talkshow Keuangan Sosial Syariah yang digelar di Convention Hall Sempaja, Samarinda, menjadi bagian integral dari Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke-30 di Kalimantan Timur (Kaltim).

Acara tersebut menggarisbawahi signifikansi keuangan syariah dalam memperkokoh perekonomian nasional di tengah gelombang tekanan ekonomi global.

Iwan Kurniawan, Asisten Direktur dan Kepala Tim Implementasi Ekonomi Daerah Bank Indonesia Kaltim, mengungkapkan perekonomian Indonesia menghadapi tantangan dari berbagai arah, baik internal maupun eksternal.

“Dari sisi internal, kita menghadapi masalah seperti minimnya lapangan pekerjaan dan stagnasi pendapatan. Sementara itu, tantangan eksternal mencakup dampak dari perang Rusia-Ukraina dan fluktuasi nilai tukar dolar AS yang memengaruhi kondisi ekonomi kita,” paparnya pada Selasa (10/9/2024).

Iwan menyoroti ketimpangan ekonomi di Indonesia tetap menjadi isu yang krusial, terutama karena masih banyak masyarakat yang berada dalam kondisi kurang mampu.

“Fenomena sosial ini menjadi PR bagi pemerintah, dan salah satu solusi yang dapat diandalkan adalah melalui instrumen keuangan syariah,” tegasnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada tahun 1998 mencapai 28,07 juta orang (11,4% dari populasi) dan turun menjadi 25,22 juta orang pada tahun 2023. Namun, ketimpangan kemiskinan masih lebih tinggi di pedesaan (3,29%) dibandingkan dengan perkotaan (2,63%).

Keuangan syariah di Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian, terutama melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf (ziswaf) yang merupakan bagian dari Islamic Social Finance (ISF).

Instrumen-instrumen tersebut menyediakan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu, mendorong peningkatan konsumsi, serta menciptakan siklus ekonomi yang berkelanjutan.

“Ketika konsumsi meningkat, sektor produksi akan merespons dengan menambah produksi, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja baru,” jelasnya.

Untuk mendukung pengembangan UMKM, Bank Indonesia menjalin kemitraan dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Sinergi tersebut meluncurkan berbagai program pemberdayaan UMKM di Kaltim, seperti pembangunan workshop UMKM unggulan, program infaq drive thru, dan pengembangan usaha pesantren.

Bank Indonesia Kaltim juga memperkenalkan aplikasi “Satu Wakaf Indonesia,” inovasi pertama di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mendukung pengelolaan keuangan syariah dengan cara yang lebih modern dan terintegrasi.

“Keuangan syariah telah terbukti sebagai penggerak ekonomi yang kuat, menjaga perekonomian nasional tetap tangguh dan fleksibel di tengah berbagai tantangan,” tutupnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar