Ujarku.co – Suara minor mengalun pelan dari sudut panggung Auditorium Universitas Mulawarman, menutup sore pementasan Apsetra XIII yang digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa. Dari kursi penonton, aku menatap panggung. Dihadapkan kisah Rami dan Cangkir Pecah, naskah karya Landung Simatupang yang diadaptasi dari The Cloud oleh Lewis Beach yang menjelma menjadi potret getir kehidupan kelas bawah yang jarang mendapat ruang bicara.
Pementasan itu dibawakan oleh Teater Mahardika dari SMA Negeri 8 Samarinda. Latar panggungnya sederhana, dapur kecil dan kusam milik sepasang suami istri miskin dan renta, Rami dan Danus. Cahaya kuning hangat menyelimuti ruang itu, menandai malam yang nyaris tenang di tengah hiruk pikuk perang antara tentara selatan dan tentara utara.
Rami, diperankan lembut namun kuat oleh Delia, hidup dalam ketakutan yang abadi. Ia takut pada tentara selatan yang sering menjarah hasil tani warga. Ia tidak peduli pada perang, karena peperangan yang sesungguhnya bagi dirinya adalah bertahan hidup dari hari ke hari.
Suaminya, Danus (diperankan Wahyu), sakit-sakitan, membuat beban rumah tangga sepenuhnya jatuh ke tangan Rami. Di sinilah kemiskinan struktural terasa begitu telanjang, kemiskinan yang bukan hanya soal harta, tapi tentang ketidakberdayaan di hadapan sistem yang tak berpihak.
Ketika malam tiba, pintu rumah mereka diketuk oleh takdir. Seorang tentara utara (diperankan Madil) masuk dengan luka tembak yang parah, memohon perlindungan. Rami panik, takut, dan bingung. Namun sebelum sempat ia mengambil keputusan, dua tentara selatan, Sersan (Inka) dan Popo (Haura), datang dengan amarah dan senjata di tangan. Suara dentuman tembakan menggema dari pengeras suara, dan seketika warna lampu berubah dari kuning hangat menjadi biru dingin, menggambarkan suasana mencekam.
Tentara selatan menggeledah rumah kecil itu dengan kasar. Mereka bertanya dengan nada mengancam, menodongkan senjata ke arah Rami. Ia tahu tentara utara sedang bersembunyi di rumahnya, tapi dengan berani, Rami memilih berbohong. “Saya tidak melihat siapa-siapa,” ujarnya dengan suara gemetar namun tegas. Dalam keheningan yang dingin itu, keberanian Rami lahir dari ketakutannya sendiri.
Setelah tentara selatan pergi membawa Danus, Rami berdialog panjang dengan tentara utara yang terluka. Tentara itu memohon untuk dibantu kabur. Tapi Rami menolak. Ia tidak mengenalnya, dan yang ia tahu hanya hidup sudah cukup kejam tanpa menambah beban baru.
Tentara utara merayu, mengatakan jika Rami menolongnya, ia akan menjadi pahlawan sejati negeri ini. Namun Rami menepis dengan getir, “Negeri apa? Aku bahkan tak merasa punya negara.” Kalimat itu menggema dalam ruang, menelanjangi kemiskinan struktural yang membuat rakyat kecil merasa terasing di tanah sendiri.

Adegan mencapai puncak saat kedua tentara selatan kembali. Mereka meminta makanan dengan nada menghina. Rami menuruti, menyajikan ubi, satu-satunya makanan yang ia punya. Namun setelah makan, Sersan mencaci Rami, menertawakannya, lalu melempar cangkir kesayangannya hingga pecah di lantai. Dalam sekejap, wajah lembut Rami berubah murka. Ia berteriak, “Bangsat! Cangkirku!” teriakan yang menembus ruang Auditorium.
Cangkir pecah itu bukan sekadar benda. Bagi Rami, itu adalah simbol kehormatan terakhir yang ia punya di tengah kemiskinan dan kekalahan. Saat pecahannya berserakan di lantai, seakan ikut pecah juga sisa kesabarannya. Dalam gelap yang tiba-tiba menyelimuti panggung, terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Ketika lampu menyala kembali, dua tentara selatan itu telah tewas. Di tengah keheningan, Rami berdiri dengan senjata di tangan, perempuan yang selama ini ditindas, akhirnya melawan.
Tentara utara keluar dari persembunyian, mencium tangan Rami, dan berkata pelan, “Saya malu dengan apa yang saya katakan tadi. Seisi negeri akan mendengar peristiwa ini, Ibu. Pahlawan bangsa. Perempuan perkasa.”
Rami menatap lantai, suaranya lirih namun tajam, “Sekarang terpaksa aku meminum dengan cangkir kaleng.”
Kalimat terakhir itu memukul perasaaku, tentang kehilangan, harga diri, dan kenyataan pahit perjuangan seringkali lahir dari keputusasaan.
Di akhir pementasan, musik minor kembali dimainkan. Seorang pemusik perempuan menyanyikan lirik, “Tertawalah sepuasmu sebelum ku membuatmu membisu.” Sebuah ironi yang menggambarkan siklus ketidakadilan, tawa penguasa sering lahir di atas penderitaan orang kecil, hingga akhirnya suara mereka terpaksa membungkam tawa itu dengan perlawanan.
Penonton bertepuk tangan. Rami dan Cangkir Pecah bukan sekadar pertunjukan, tapi suara. Suara perempuan miskin, suara yang selama ini ditinggalkan di dapur-dapur kumuh dan lorong-lorong gelap kehidupan. Dan di panggung Apsetra XIII malam itu, Teater Mahardika berhasil membuat suara itu terdengar.(*)
Penulis: Devi Mogot





