Ujarku.co – Warga meminta pemerintah membangun sodetan sebagai syarat utama apabila proyek perluasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II (RS Korpri) di Jalan Wahid Hasyim I tetap dilanjutkan. Permintaan tersebut disampaikan menyusul kekhawatiran meningkatnya risiko banjir akibat pematangan lahan proyek.
Kamaluddin, Ketua RT 27 Rapak Binuang, menjelaskan sodetan merupakan saluran buatan untuk mengalihkan aliran air ke jalur lain guna mengurangi beban debit air di satu kawasan. Menurutnya, tanpa sodetan, kawasan Rapak Binuang tidak lagi mampu menampung limpasan air dari wilayah sekitar.
“Kami minta perhatian dari Bapak Walikota melalui PUPR Provinsi maupun PUPR Kota Samarinda, harus ada sodetan untuk membantu sungai. Air dari Batu Besaung, Batu Cermin, dan sekitarnya semuanya turun ke Rapak Binuang. Di sini sudah tidak sanggup menampung,” ujar Kamaluddin, Rabu (17/12/2025).
Ia mengusulkan agar sodetan dibangun di kawasan Bengkuring atau titik lain yang memungkinkan, sehingga sebagian aliran air dapat langsung dialirkan ke Sungai Karang Mumus dan tidak seluruhnya masuk ke permukiman Rapak Binuang.
Kamaluddin mengatakan, wilayahnya merupakan daerah tampungan terakhir aliran banjir. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan berkurangnya daya resap tanah akibat aktivitas pengurukan lahan proyek perluasan rumah sakit.

“Ini bukan lagi kekhawatiran, tapi dampak yang pasti terjadi karena tidak ada lagi resapan air. Air tidak sempat mengendap, langsung masuk ke permukiman,” katanya.
Ia mengungkapkan, intensitas dan ketinggian banjir di Rapak Binuang mengalami peningkatan signifikan. Jika sebelumnya genangan air hanya setinggi lutut, kini banjir sudah mencapai pinggang orang dewasa dan masuk ke dalam rumah warga.
“Sekarang banjir sudah mendekati level jalan,” ujarnya.
Dampak banjir tersebut membuat aktivitas warga lumpuh total. Saat banjir terjadi, warga kesulitan beraktivitas karena perabot rumah tangga terendam dan distribusi bantuan tidak dapat menjangkau permukiman.
“Warga tidak bisa masak dan tidak bisa makan. Dapur terendam, alat rumah tangga rusak, bantuan pun susah masuk,” jelasnya.
Kamaluddin menambahkan, selama hampir dua tahun terakhir kawasan Rapak Binuang relatif tidak mengalami banjir besar. Namun belakangan, banjir kembali terjadi dengan durasi yang lebih lama, tepatnya November lalu. Durasi mencapai 14 hingga 18 jam, dan bisa berlangsung hingga dua hari saat permukaan sungai tinggi.
“Endapan lumpur yang masuk ke rumah juga makin tebal. Dulu hanya sekitar satu sentimeter, sekarang bisa sampai tiga sentimeter,” pungkasnya.(*)
Penulis: Devi Mogot





