Dinkes Kaltim Dorong Konsumsi Gizi Seimbang dan Promosi Kesehatan Lewat Teknologi

Fitnawati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kaltim

Ujarku.co – Fitnawati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), membeberkan meskipun beberapa penyakit seperti gondongan dapat sembuh dengan sendirinya, penting untuk tetap menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi gizi seimbang dan penerapan gaya hidup sehat.

Hal tersebut disampaikannya di konferensi pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Jumat (18/10/2024). Fitnawati mengungkapkan penyakit gondongan biasanya sembuh dalam lima hari, selama pasien mengikuti anjuran kesehatan yang tepat.

“Tapi dia bisa hilang sendiri, dalam waktu lima hari. Yang penting dia isolasi, konsumsi gizi seimbang, banyak minum air putih, dan tetap menggunakan masker,” ujarnya.

Ia menambahkan, upaya pencegahan lainnya termasuk menjaga kebersihan, seperti tidak berbagi alat makan untuk mencegah penyebaran virus.

Meskipun gejala gondongan sering kali terbatas pada pembengkakan di area leher dan demam, Fitnawati mengingatkan daya tahan tubuh yang kuat merupakan kunci utama dalam melawan berbagai penyakit, bukan hanya gondongan.

“Semua penyakit, jika daya tahan tubuh tinggi dengan konsumsi gizi seimbang, pasti akan dilawan oleh tubuh kita sendiri,” jelasnya.

Selain membahas tentang gondongan, Fitnawati juga menyoroti permasalahan yang dihadapi dalam sistem rujukan kesehatan di Kaltim, terutama terkait dengan layanan BPJS.

Ia menekankan seharusnya ada pemilahan yang jelas dalam proses rujukan pasien, sehingga rujukan ke rumah sakit dilakukan hanya ketika puskesmas tidak mampu menangani kasus tersebut. Namun, ia mengakui adanya ketidakseimbangan dalam proses rujukan yang kerap kali membuat BPJS kewalahan.

“BPJS kewalahan juga. Terkadang, dokter langsung setuju saja dengan permintaan rujukan, padahal seharusnya ada pemilahan yang jelas. Jika penyakit masih bisa ditangani di puskesmas, rujukan ke rumah sakit tidak perlu dilakukan,” ujarnya.

Fitnawati menjelaskan sistem rujukan yang ada saat ini berbasis rayon atau wilayah, sehingga pasien dari luar daerah harus membawa rujukan dari puskesmas setempat sebelum dapat dirujuk ke rumah sakit di Samarinda.

“Sekarang sistemnya sudah berdasarkan rayon. Pasien dari Berau atau Pasir misalnya, harus membawa rujukan dari daerah asalnya sebelum bisa dirujuk di Samarinda,” tambahnya.

Di samping itu, Dinas Kesehatan Kaltim juga terus berupaya meningkatkan kolaborasi lintas sektor dalam penanggulangan berbagai masalah kesehatan, seperti stunting. Fitnawati menekankan pentingnya kerjasama antar instansi untuk mempercepat upaya penanggulangan stunting, dengan mengintegrasikan program dari berbagai sektor.

“Sekarang kami berkolaborasi. Kami ajak semua pihak agar upaya penanggulangan stunting ini lebih efektif dan efisien. Jangan sampai ada program yang ditangani secara terpisah dengan sumber anggaran yang berbeda,” jelasnya.

Selain kolaborasi lintas sektor, Fitnawati menambahkan upaya promosi kesehatan juga dilakukan melalui berbagai media, termasuk IT dan platform digital. Dinas Kesehatan Kaltim berupaya menyebarkan informasi kesehatan dengan cepat dan tepat melalui media sosial dan kolaborasi dengan kader PKK serta posyandu di tingkat masyarakat.

“Sosialisasi dan promosi terkait pencegahan stunting serta penyakit lainnya kami lakukan melalui kader PKK dan posyandu, agar informasi sampai lebih cepat ke masyarakat. Dengan bantuan teknologi, informasi kesehatan bisa diakses dari mana saja,” pungkasnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar