Dua Paslon Gubernur-Wagub Kaltim Adu Strategi Pengelolaan Sampah

Screenshot suasana debat terakhir Pilkada Kaltim 2024

Ujarku.co – Debat terakhir Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kalimantan Timur (Kaltim) 2024 menjadi panggung kandidat calon Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud dan pasangan petahana Isran Noor-Hadi Mulyadi beradu gagasan mengenai strategi pengelolaan sampah, mengungkap persoalan teknis hingga budaya yang menjadi penghambat solusi berkelanjutan.

Moderator mengubgkapkan, data terbaru menunjukkan bahwa produksi sampah Kaltim terus meningkat, mencapai 791.828 ton dalam kurun 2021-2023. Sampah rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 55,97 persen, sementara pengelolaan yang belum optimal menyisakan 9,7 persen sampah tidak tertangani.

Rudy Mas’ud, calon gubernur nomor urut 2, menyodorkan solusi komprehensif, mulai dari kebijakan regulatif hingga edukasi berbasis masyarakat.

“Kita perlu mendorong perda pengelolaan sampah yang lebih tepat, disertai program edukasi melalui sekolah, komunitas, dan media sosial. Sampah rumah tangga harus dikelola mandiri, bukan hanya dibuang sembarangan,” ujar Rudy, Jumat (22/11/2024).

Ia juga mengusulkan kolaborasi dengan pihak swasta untuk membangun infrastruktur pengolahan sampah yang ramah lingkungan.

Rudy mencontoh keberhasilan daerah lain, seperti Surabaya dan Bali, dalam mengelola sampah menjadi energi dan pupuk.

“Kita bisa memanfaatkan CSR perusahaan tambang dan perkebunan di Kaltim untuk membangun fasilitas pengolahan sampah terpadu. Bahkan teknologi bisa kita gunakan untuk mengawasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) melalui aplikasi seperti SAKTI,” tambahnya.

Namun, tanggapan dari pasangan calon nomor urut 1, Isran Noor dan Hadi Mulyadi, cenderung defensif. Isran hanya memberikan komentar singkat, “Kayaknya konsepnya sudah kami siapkan itu.”

Hadi Mulyadi menambahkan program pengelolaan sampah sebenarnya sudah berjalan di masa kepemimpinan mereka, termasuk melalui aplikasi SAKTI.

“Persoalan sampah itu budaya. Dari rumah tangga, sekolah, hingga masyarakat, kita sudah mulai menerapkan langkah-langkah untuk menjadikan sampah sebagai pupuk dan energi. Tapi memang belum sepenuhnya terlaksana,” ujarnya.

Rudy tidak tinggal diam. Ia menyoroti penanganan sampah saat ini masih sangat tradisional.

“Kita belum mengedukasi masyarakat secara masif. Sampah di sungai dan laut dianggap biasa saja. Bahkan, kru kapal masih membuang sampah sembarangan. Ini harus ditangani melalui pelatihan terstruktur dari rumah hingga profesional,” pungkasnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar