Ujarku.co – Enam warga Kaltim, berhasil dipulangkan ke Bumi Mulawarman, usai dievakuasi dari Sudan.
Sebagian besar warga yang dievakuasi adalah mahasiswa, salah satunya Ahmad Rauf (26) warga asal Penajam Paser Utara (PPU).
Perang Sipil di Sudan, pecah sejak Sabtu (15/4/2023) disinyalir akibat dua faksi utama rezim militer Sudan saling berebut kekuasaan.
Sejak hari itu, kehidupan Ahmad Rauf masuk dalam suasana mencekam.
Akhir pekan, mestinya diisi Rauf dengan kegiatan santai, melepas penat setelah bergelut dengan tugas kampus di International University of Africa.
Tapi akhir pekan jelang Idulfitri 1444 hijriah ini berbeda.
Dari kejauhan, suara tembakan dan ledakan bersahut-sahutan. Ini tidak baik-baik saja.
Benar, perang sipil pecah di Sudan.
Hari-hari selanjutnya, Rauf menikmati nyayian perang, desing peluru sampai ledakan roket menggema keras di kembang telinganya.
“Suara tembakan sering terdengar. Setiap hari, nggak berhenti,” ungkap Rauf, saat bercerita tentang pengalamannya berada di tengah-tengah konflik Sudan.
Rauf terpaksa mengamankan diri ke kampus dan tempat kediamannya di Sudan.
Kedua tempat itulah yang dirasa paling aman.
Tapi tidak juga, kondisi makin mencekam di kampus.
Bagaimana tidak, posisi International University of Africa, berada di belakang markas militer Sudan.
Otomatis lokasi itu masuk dalam radius pusat pertempuran.
“Tempat tinggal saya di lantai atas di balkon itu terdengar peluru berseliweran seperti di atas kepala,” jelasnya.
Tidak seperti menonton film Black Hawk Down, atau Hecksaw Ridge yang seru dan menegangkan.
Berada di tengah pertempuran begitu menakutkan bagi Rauf.
“Bahkan pernah ada ledakan yang tak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya,” imbuh Rauf.
Beruntung, Pemerintah Republik Indonesia bergerak cepat melakukan evakuasi.
Tercatat 955 WNI termasuk Rauf berhasil dievakuasi dari Sudan.
“Saat itu, pihak KBRI langsung mengumpulkan kami semua di satu tempat baik itu mahasiswa maupun TKI dan secara bertahap kami dievakuasi dan diberikan arahan dengan sangat jelas,” tegasnya.
“Alhamdulillah komunikasi bersama keluarga pun lancar baik saat masih di Sudan maupun saat kami ditempatkan sementara di Jakarta,” lanjutnya.
Kebali ke Bumi Mulawarman, Rauf disambut haru pihak keluarga.
Sang Ayah, Muhlis, tidak bisa menyembunyikan tangis bahagia.
Dapat memandang kembali rupa puteranya itu, orangtua Rauf mengaku sangat lega dan amat bersyukur.
“Selama ini, dia nggak pernah cerita macam-macam. Bilangnya nggak apa-apa, aman, mungkin nggak mau membuat keluarga khawatir. Tapi sekarang semua sudah berkumpul, Alhamdulillah” kata Muhlis. (*)
Penulis; SL/Ujarku.co



