Ujarku.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan program Gartispol pendidikan untuk mahasiswa yang kuliah di luar daerah, termasuk luar negeri, tidak bersifat menyeluruh atau otomatis diberikan. Hal ini disampaikan Dasmiah, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Kaltim.
Menurut Dasmiah, bantuan Gratispol pendidikan di luar Kaltim dikategorikan sebagai beasiswa, bukan bantuan penuh seperti yang diberikan untuk mahasiswa di dalam daerah. Oleh sebab itu, bantuan ini memiliki syarat dan ketentuan yang ketat.
“Syarat yang pertama bahwa harus di 10 PTN (perguruan tinggi negeri) terbaik di Indonesia. Contohnya seperti UGM, ITB, intinya 10 terbaik. Mahasiswa ini akan diprioritaskan atau tanpa seleksi,” ujarnya beberapa hari lalu.
Selain itu, Dasmiah menyebut, beasiswa juga diberikan kepada mahasiswa yang mengambil program studi yang tidak tersedia di perguruan tinggi Kaltim, seperti spesialisasi di bidang kedokteran. Langkah ini diambil mengingat masih kurangnya tenaga dokter spesialis di Kaltim.
Ia juga menekankan mahasiswa asal wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, seperti Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kabupaten Kutai Barat (Kubar), akan diprioritaskan dalam pemberian beasiswa.
“Seperti Mahulu 11 persen, kemudian Kubar 9,8 persen,” tambah Dasmiah.
Berbeda dengan bantuan reguler, skema beasiswa ini menggunakan sistem seleksi ketat dengan evaluasi berkala setiap semester. Jika mahasiswa tidak mampu mempertahankan prestasi akademiknya, maka beasiswa bisa dihentikan.
“Sistemnya bisa saja tahun ini dapat, tahun depan tidak dapat karena ini sistemnya juga per semester. Jadi kalau IPK-nya turun dipastikan tidak dapat lagi, jadi evaluasinya itu per semester. Karena ini benar-benar sistemnya seperti beasiswa,” paparnya.
Dasmiah menjelaskan pertimbangan seleksi ini juga sejalan dengan komitmen Pemprov Kaltim untuk memprioritaskan pendidikan tinggi di dalam daerah. Tujuannya adalah mendorong kepercayaan terhadap kualitas perguruan tinggi lokal dan memastikan hasil pendidikan kembali diterapkan untuk pembangunan di Kaltim.
Untuk tahun 2025, Pemprov Kaltim menargetkan sebanyak 857 mahasiswa luar daerah dan 89 mahasiswa luar negeri sebagai penerima bantuan pendidikan. Jumlah tersebut akan ditingkatkan pada tahun 2026 menjadi 892 penerima di luar Kaltim dan 133 penerima dari luar negeri.
Dengan skema ini, Pemprov Kaltim berharap program Gratispol tetap berjalan efektif dan tepat sasaran, serta mendorong mahasiswa untuk lebih giat mempertahankan prestasi akademik mereka.(*)
Penulis: Devi Mogot





