Maraknya Freelance Fotografer di Teras Samarinda

Teras Samarinda

Ujarku.co – Dalam beberapa bulan terakhir, tren fotografi di area jogging semakin marak di Samarinda. Tidak hanya menjadi tempat berolahraga, berbagai lokasi jogging, seperti di Stadion Gelora Kadrieoning, Taman Samarendah, dan spot yang paling baru yakni Teras Samarinda menjadi spot favorit bagi para freelancer fotografer yang menawarkan jasa dokumentasi langsung di tempat.

Para fotografer lepas ini sering kali tampak berbaur dengan para pelari pagi atau sore, sambil membawa kamera profesional mereka. Dengan sigap, mereka menawarkan jasa pemotretan dadakan kepada individu maupun kelompok yang sedang berolahraga, baik untuk keperluan pribadi maupun unggahan media sosial.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp100 ribu per sesi, tergantung jumlah foto dan durasi pemotretan.

Salah satu fotografer freelance yang sering ditemukan di area Teras Samarinda, Riffai (25), mengungkapkan tren tersebut muncul seiring meningkatnya minat masyarakat untuk mendokumentasikan momen-momen spesial mereka saat berolahraga.

“Sekarang orang-orang nggak cuma sekedar jogging, tapi juga ingin mengabadikan momen sehat mereka. Terutama di era media sosial seperti ini, foto-foto yang bagus sangat penting,” ungkapnya, Senin (7/10/2024).

“Kadang nggak cuma di jogging track, biasa kita juga sering ke cafe hits atau yang baru buka di Samarinda, nah disitu juga lumayan dapatnya,” tambah Riffai.

Menanggapi hal tersebut, Abdul Rohim, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda, mengatakan kehadiran fotografer di area Teras Samarinda bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, selama mereka tidak memaksa pengunjung untuk memakai layanan mereka.

Bahkan, menurutnya, hal tersebut justru dapat mendukung upaya pemerintah dalam mempromosikan lokasi yang menjadi ikon baru di Samarinda.

Pernyataan ini disampaikan menanggapi kabar adanya larangan bagi fotografer yang menawarkan jasa di Teras Samarinda oleh petugas setempat.

Suasana Teras Samarinda

“Sebetulnya tidak ada masalah dengan keberadaan fotografer di Teras Samarinda, asalkan mereka tidak memaksa pengunjung. Malah ini bisa membantu pemerintah dalam mempublikasikan berbagai kegiatan di kota kita,” ujar Rohim.

Rohim juga mencontohkan keberadaan fotografer di lokasi wisata lain, seperti di kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang telah menjadi bagian dari atraksi budaya dan ekonomi lokal.

“Di Malioboro, Yogyakarta, misalnya, para fotografer sudah lama ada di sana. Terutama pada sore hari, mereka bisa memperoleh pendapatan yang cukup besar,” tambahnya.

Rohim mendukung adanya wacana regulasi terkait fotografer di Teras Samarinda yang akan diusulkan oleh pemerintah kota. Namun, ia menekankan aturan tersebut harus difokuskan untuk menata situasi tanpa memberikan beban berlebih kepada para fotografer.

Ia berharap pemerintah memberi ruang bagi para fotografer untuk berkarya dan berperan dalam mendukung promosi pariwisata lokal. Terlebih lagi, lanjut Rohim, konsep Teras Samarinda sendiri dirancang sebagai bagian dari upaya akselerasi ekonomi.

Oleh karena itu, Rohim menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah dan para fotografer guna menciptakan suasana yang nyaman bagi semua pihak, serta memastikan tidak ada pungutan yang merugikan.

“Jika tujuannya untuk merapikan dengan aturan, tidak apa-apa, misalnya dengan kewajiban registrasi. Yang penting jangan sampai memberatkan dengan pungutan tambahan. Toh, nantinya mereka juga akan membayar pajak,” tutupnya.(*)

Penulis: Devi Mogot

Editor: Tirta Wahyuda

Tag Berita

Bagikan

Komentar