Kemewahan di Balik Pena Jurnalis Perempuan, Menggali Ruh dalam Setiap Laporan

Suasana diskusi Publik Jurnalis Perempuan Lawan Kekerasan dan Diskriminasi: Wujudkan Lingkungan Aman bagi Jurnalis Perempuan by Perempuan Mahardhika

Ujarku.co – Perempuan di dunia jurnalistik bukan hanya membawa suara, tetapi juga nuansa. Dalam diskusi publik bertajuk Jurnalis Perempuan Lawan Kekerasan dan Diskriminasi: Wujudkan Lingkungan Aman bagi Jurnalis Perempuan yg diselenggarakan oleh Perempuan Mahardhika Samarinda.

Diskusi tersebut berlangsung di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim, Kamis (5/12/2024). Abdurrahman Amin, Ketua PWI Kaltim, menyoroti tantangan dan keistimewaan yang melekat pada profesi ini, khususnya bagi perempuan.

Menurut Abdurrahman, pekerjaan jurnalis adalah profesi rentan, terlebih bagi perempuan.

“Rentannya dua kali lipat. Laki-laki saja rentan, apalagi perempuan,” ujarnya.

Namun, ia juga menegaskan perlindungan harus diberikan tanpa memandang gender. Tantangan itu justru melahirkan perspektif unik yang tak bisa ditemukan di pekerjaan lain.

Abdurrahman menilai perempuan memiliki kemewahan tersendiri dalam dunia jurnalistik. Bukan sekadar karena keberanian mereka masuk ke medan yang keras, tetapi juga karena kemampuan mereka memberikan sentuhan emosional yang berbeda.

Hal ini terbukti dari karya jurnalis perempuan seperti Marga Rahayu, yang meraih penghargaan Adinegoro atas laporan tentang korban lubang tambang di Kaltim.

“Ketika perempuan menulis, ada ruh dalam tulisannya,” kata Abdurrahman.

Abdurrahman Amin, Ketua PWI Kaltim.

Ia menjelaskan perempuan lebih mengutamakan perasaan, sehingga tulisan mereka sering kali menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam. Dalam kasus Marga, perspektifnya sebagai seorang perempuan memberikan kedalaman emosional yang tidak hanya informatif tetapi juga menggugah kesadaran pembaca.

Kemewahan ini, lanjut Abdurrahman, tidak datang tanpa tantangan. Kekerasan dan diskriminasi masih menjadi bayangan yang menghantui jurnalis perempuan. Di lapangan, mereka sering kali menghadapi stigma, pelecehan, dan kurangnya perlindungan.

Namun, semangat mereka tetap menjadi sumber inspirasi, menegaskan bahwa suara perempuan di media adalah elemen penting dalam membentuk narasi publik.

Selain tantangan, potensi besar jurnalis perempuan juga menjadi sorotan. Abdurrahman menggarisbawahi pentingnya memaksimalkan kekuatan perempuan dalam dunia jurnalistik.

“Tulisan seorang ibu, misalnya, selalu punya karakteristik yang lebih menyentuh dibandingkan tulisan yang datar. Ini adalah kekuatan yang harus terus diasah,” tuturnya.

Diskusi ini juga mengingatkan tentang pentingnya mendukung perempuan dalam bidang jurnalistik, baik dari segi pelatihan, perlindungan, maupun akses terhadap sumber daya. Harapannya, setiap karya jurnalis perempuan tidak hanya menjadi laporan biasa, tetapi juga menjadi jendela bagi masyarakat untuk memahami isu-isu dengan lebih mendalam dan penuh empati.

Profesi jurnalis perempuan memang penuh tantangan, tetapi juga dipenuhi dengan kemewahan tersendiri. Dalam dunia yang semakin kompleks, perspektif mereka tidak hanya relevan, tetapi juga esensial untuk menghadirkan narasi yang lebih beragam, adil, dan menyentuh hati.(*)

Penulis: Devi Mogot

Tag Berita

Bagikan

Komentar