Ujarku.co – Komisi Irigasi Kota Samarinda tengah memfokuskan upaya penguatan jaringan irigasi di Kecamatan Lempake dan Kecamatan Sambutan. Langkah tersebut sejalan dengan Perubahan Peraturan Menteri (Permen) PUPR Nomor 14/PRT/M/2015 yang mengatur tentang kriteria dan penetapan status daerah irigasi.
Penguatan tersebut dilakukan demi meningkatkan ketersediaan air untuk pertanian, yang selama ini terhambat oleh kondisi infrastruktur irigasi yang rusak.
Andy Supriyatna, perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, menjelaskan jaringan irigasi di dua kecamatan tersebut dipilih sebagai prioritas karena sering kali terjadi kebocoran, sehingga air yang mengalir dari Bendungan Lempake tidak sampai ke lahan persawahan.
“Banyak jaringan irigasi mengalami kebocoran, sehingga outflow dari Bendungan Lempake tidak dapat mengalir sampai ke sawah-sawah. Selain itu, banyak pintu air yang mengalami kerusakan,” ungkap Andy, Rabu (16/10/2024).
Dalam sosialisasi tersebut, BWS bersama Pemerintah Kaltim dan sembilan kabupaten/kota lainnya melakukan sinkronisasi regulasi, sekaligus menyusun langkah strategis untuk memperbaiki kondisi irigasi di daerah tersebut. Hasilnya, terdapat empat kesimpulan penting, pertama adalah perlunya monitoring dan evaluasi intensif pada Daerah Irigasi Lempake.
Kedua, mengacu pada Permen PUPR Nomor 14 Tahun 2015, Andy menambahkan pemerintah kabupaten/kota memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam mengelola sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya di bawah 1000 hektare. Dengan luas wilayah irigasi di Lempake sebesar 495,85 hektare dan luas fungsional 218,71 hektare, pengelolaan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Kota Samarinda.
“Ketiga, peran pemerintah kota sangat diperlukan. Pengelolaan irigasi di daerah yang kurang dari 1000 hektare, seperti Lempake, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Keempat, maka segera perlu dilakukan rehabilitasi dan perbaikan terhadap jaringan yang rusak agar sistem irigasi dapat berfungsi optimal,” tutur Andy.
Dalam kesempatan yang sama, Eko Wahyudi, Tenaga Ahli Perairan, menekankan pentingnya operasi dan pemeliharaan (OP) dalam sistem jaringan irigasi. Menurutnya, operasi jaringan irigasi melibatkan pengaturan air secara efektif dan efisien, termasuk membuka-menutup pintu air, menyusun rencana tata tanam, serta melakukan kalibrasi pintu bangunan irigasi.
“Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sangat diperlukan agar air bisa dimanfaatkan secara optimal. Ini melibatkan berbagai aktivitas, mulai dari pembagian air hingga kalibrasi pintu irigasi,” jelas Eko.
Ia juga menekankan peran penting Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam menjaga kelangsungan operasi dan pemeliharaan jaringan. Partisipasi P3A dianggap krusial, baik dalam pencegahan kerusakan jaringan irigasi maupun dalam upaya pemeliharaan yang berkelanjutan.
“P3A memegang peranan penting dalam menjaga jaringan irigasi tetap berfungsi dengan baik. Mereka terlibat aktif dalam pengamanan dan pencegahan kerusakan, serta pemeliharaan jaringan,” lanjut Eko.
Dengan adanya koordinasi antara pemerintah, BWS, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan permasalahan irigasi di Kecamatan Lempake dan Sambutan dapat segera teratasi, sehingga ketersediaan air untuk pertanian di daerah tersebut dapat terpenuhi secara maksimal.
Sementara Dinas PUPR Kota Samarinda, pihaknya telah melaksanakan berbagai proyek pengembangan dan pengelolaan sisten irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi yang luasnya dibawah 1000 hektar.
Di 2024 sendiri, kegiatannya sebagai berikut :
1. Peningkatan Jaringan Irigasi Permukaan
– Peningkatan Saluran Irigasi Jalan Giri Rejo RT 25, Kelurahan Lempake, kecamatan Samarinda Utara (APBD 2024) (184 juta)
– Peningkatan Saluran Irigasi Jalan Sejati Ontorejo RT 12, kelurahan Sungai Kapih, Kecamatan Sambutan (APBD 2024)(184 juta)
– Peningkatan Saluran Irigasi Jalan Sejati Ontorejo RT 12, kelurahan Sungai Kapih, kecamatan Sambutan (APBD 2024)(184 juta)
– Peningkatan Saluran Irigasi Sambutan (Lanjutan) (Bankeu 2024) (4,3 miliar)
2. Operasional Kelembagaan Pengelola Irigasi
– Kegiatan Komisi Irigasi (1 miliar)
Untuk rencana kegiatan di tahun 2025 sendiri ialah :
1. Peningkatan Jaringan irigasi Permukaan
– Peningkatan Saluran Irigasi Sambutan (Lanjutan) (Bankeu 2025) (2,9 miliar)
– Peningkatan Saluran Irigasi DI.Handi Bakti (Bankeu 2025) (2 miliar)
– Peningkatan Saluran Irigasi Tanah Merah (Bankeu 2025) (2 miliar)
2. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Permukaan
-Rehabilitasi Jaringan Irigasi DI.Belimau (Bankeu 2025) (2 miliar).(*)
Penulis: Devi Mogot
Editor: Tirta Wahyuda





