Mencurigai Siasat Jahat Wali Kota Mineral Town Kuasai Pertanian Warisan, Upaya Ini Bahkan Didukung Warga

Ilustrasi Ujarku.co, diolah dari berbagai sumber

Menelusuri Universe Harvest Moon (Bagian 2.0)

Tulisan ini tidak untuk menyinggung atau terkait siapapun.

Tulisan ini murni daya cipta dan fantasi penulis menilik lebih dalam gim Harvest Moon: Back To Nature, yang dikembangkan oleh Victor Interactive Software.

Tulisan ini bentuk apresiasi penulis terhadap gim yang tidak akan lengkang oleh waktu ini.

Sudut pandang lain, apa-apa saja yang terjadi di Mineral Town (latar tempat dalam gim Harvest Moon: Back To Nature).

Artikel ini akan dibuat tulisan bersambung.

Sekali lagi bukan untuk menyinggung, tulisan ini hanya hiburan semata. Isu sosial, isu lingkungan, dan lain-lainnya hanya daya cipta penulis melihat semesta Harvest Moon.

////

Ujarku.co

Tantangan utama Gim Harvest Moon: Back To Nature, bagaimana mengelola pertanian warisan dari sang kakek.

Tokoh utama, diberi waktu tiga tahun untuk mengembangkan pertanian tersebut.

Mayor (wali kota) Thomas dan penduduk lainnya memutuskan jika tokoh utama bisa mengembalikan kejayaan pertanian atau berteman dengan penduduk, maka si tokoh utama diperbolehkan tinggal selamanya.

Karakter utama (tindak punya nama tetap), selanjutnya akan kita panggil dia dengan nama Bujang.

Selama bermain, Bujang harus membangun sebuah kebun subur dan berteman dengan penduduk Mineral Town.

Bujang dituntut bisa menyeimbangkan antara mengurus kebun dan bersosialisasi dengan karakter-karakter.

Logika dasar bekerja.

Bagaimana mungkin kepemilikan penuh pertanian warisan ini diatur oleh Wali Kota Thomas.

Kita patut mencurigai ini sebagai upaya jahat.

Pasalnya, upaya pengusiran Bujang turut didukung seluruh warga Mineral Town.

Dua cara yang bisa dilakukan Bujang, mengembangkan pertanian atau melakukan politik perkawinan.

Kembali ke Wali Kota Thomas, tidak ada informasi yang menyebut berapa lama pria bertubuh pendek ini berkuasa di Mineral Town.

Prediksi penulis, ia telah sejak lama menduduki kursi Mineral Town Satu.

Thomas diidentifikasi merupkan Wali Kota Ke-14 Mineral Town.

Hal itu dibuktikan dari Makam Wali Kota 13 Mineral Town, di pemakaman samping gereja.

Makam itu sudah sejak lama ada di sana, dengan komposisi makam yang menyiratkan tempat pesemayaman Wali Kota 13 jadi yang pertama dimakamkan di sana.

Bukti kedua, saat Thomas mengantar Bujang ke lokasi pertanian sang kakek.

Thomas membuka percakapan bahwa Bujang telah beranjak dewasa, usai sekian tahun tidak bertemu.

“Sudah cukup lama sekali ya. Dalam beberapa tahun kau tumbuh dewasa,” ungkap Thomas, kala menemani Bujang melihat pertanian.

Thomas dipastikan telah menjadi wali kota sejak Kakek Bujang masih mengelola pertanian.

Sebagai wali kota, Thomas menjadi penanggung jawab pelaksanaan sebagian besar festival di kota.

Artinya berapa banyak G (mata uang Harvest Moon) yang ia kelola.

Ruang masuk ke korupsi terbuka lebar.

Terlebih, Thomas punya anak bernama Harris, yang menjadi polisi tunggal di Mineral Town.

Dukungan dinasti keluarga itu nyaris membuat Thomas tidak tersentuh hukum.

Belum lagi, Wali Kota Thomas mempekerjakan Kano, seorang fotografer kota. Cerdas memang, ini jadi upaya menaikan popularitas dan elektabilitas sosok wali kota.

Dengan semua kekuasaan di tangan, otomatis Wali Kota Thomas bakal jadi penguasa tunggal pertanian jika berhasil dirampas dari Bujang.

“Tapi jika kebunnya telantar, atau kau tidak bersosialisasi dengan penduduk. Maka kau harus pergi,” ucap Thomas lagi kepada Bujang.

Pasca Kakek Bujang meninggal, rencana Thomas belum bisa dilakukan. Pasalnya ada Bujang yang menjadi ahli waris pertanian.

Setahun memantapkan taktik, rencana Thomas mulai dijalankan usai kedatangan Bujang ke Mineral Town.

Menunggu momen itu, pertanian warisan dibiarkan terbengkalai.

Ada dugaan, sepeninggal Kakek Bujang, seluruh hewan ternak dan pasokan pangan di pertanian langsung diambil alih oleh Wali Kota Thomas. Ini masih dugaan, butuh penelusuran lebih lanjut.

Itulah sebab, saat Bujang mula-mula mengelola pertanian, tidak ada apa-apa di aset lahan dan properti milik kakek-nya.

Bujang mesti berusaha dari awal.

Sebuah tantangan berat bagi pemuda kota besar yang minim pengetahuian akan dunia pertanian.

Sampai sini, Thomas optimis Bujang bakal gagal mengelola pertanian.

Thomas, memang politisi ulung. Pria itu lihai mempengaruhi warga untuk menyetujui rencana Thomas.

Bagai sapi yang dicucuk hidungnya. Warga bermufakat turut serta menjalankan rencana wali kota.

Tiga tahun Bujang gagal mengelola pertanian atau berteman, mesti wajib pakai banget diusir dari kota.

Apa benar Wali Kota Thomas jahat?

Mungkin itu jadi pertanyaan mendasar. Tapi skeptisnya penulis, kita sebut apa wali kota yang jadi bandar judi.

Lihat saja dia jadi NPC penukaran medali saat lomba Balap Kuda. Itu sebagian kecil dari banyaknya penyelenggaran festival kota berada di bawah ketiaknya.

Bujang, dipaksa jadi penjilat ke seluruh warga kota. Berupaya berteman baik, memberi hadiah, membantu warga.

Bujang jadi babu.

Politik perkawinan jadi opsi yang bisa dimaksimalkannya. Jalan lain mencari selamat.

Mungkin saja, sosok Wali Kota Thomas adalah sosok yang baik, sosok berwibawa memberi tantangan kepada anak muda.

Mungkin penulis hanya dipenuhi rasa curiga.

Tapi logika penulis, wali kota yang anaknya aparat hukum, bukankah patut dicurigai.

Untung saja Harris bukan Camat atau Lurah.

Jika iya, kebijakan apapun yang dikeluarkan Thomas pasti melenggang bahkan sejak tingkat aparat bawah. (*)

Penulis; SL/Ujarku.co

Tag Berita

Bagikan

Komentar